LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

APTRI sebut Bulog gagal stabilkan harga gula

DPN APTRI menyebut Bulog telah gagal melaksanakan amanat pemerintah untuk menstabilkan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya gula. Terbukti, tahun 2016 Bulog tidak mampu menstabilkan harga gula terutama saat menjelang Hari Raya Idul Fitri.

2017-02-08 10:59:39
Gula
Advertisement

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI), Soemitro Samadikoen menyebut Bulog telah gagal melaksanakan amanat pemerintah untuk menstabilkan harga sejumlah komoditas pangan, khususnya gula.

Terbukti, tahun 2016 Bulog tidak mampu menstabilkan harga gula terutama saat menjelang Hari Raya Idul Fitri yang lalu yang menembus harga Rp 14.000 per kg. Padahal, pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) Rp 12.500 per kg dan BULOG juga saat itu mengantongi Izin impor 100.000 ton white sugar dan ditambah impor raw sugar 267.000 ton.

"Mestinya, dengan kegagalan tersebut pemerintah tidak lagi memberikan penugasan impor gula lagi kepada Bulog," ujar Soemitro di Jakarta, Rabu (8/2).

Advertisement

Sekjen DPN APTRI, Nur Khabsin menambahkan, ketika rencana impor digulirkan tahun lalu, Kementerian BUMN menjanjikan kompensasi kepada petani berupa rendemen 8,5 persen. Janji tersebut dingkari, isapan jempol saja, sehingga petani tetap merugi. Impornya jalan terus rendemennya tetap di kisaran angka 5 persen hingga 6 persen.

Menurut keterangan resmi pemerintah, tingginya harga gula nasional akibat kurangnya stok gula nasional. Karena itu perlu kebijakan impor. Tahun 2016 Kementerian BUMN menugaskan BULOG untuk mengimpor 100.000 ton white sugar dan raw sugar 267.000 ton.

"Impor tersebut selain mengakibatkan petani tebu merugi, juga tidak berpengaruh pada stabilisasi harga gula di tingkat eceran. Anehnya lagi, sebagian gula impor tersebut saat masih berada di gudang."

Advertisement

Selain itu, DPN APTRI juga mengingatkan penegak hukum, baik Polri maupun KPK untuk segera mengusut adanya dugaan fee Rp 1.000 dari setiap kg raw sugar impor yang diduga diberikan kepada oknum Bulog.

Selain kegagalan menstabilkan harga gula, urgensi pemerintah untuk mengevaluasi Bulog juga terkait kebijakan pembelian pabrik gula PT Gendhis Multi Manis (PT GMM) oleh Perum Bulog pada September 2016. Akuisisi perusahaan gula swasta di Blora, Jawa Tengah dinilai APTRI menimbulkan tanda tanya besar, dimana pada saat ini rencana penutupan 11 Pabrik Gula BUMN (9 diantaranya ada di Jawa Timur) sudah didepan mata, justru BULOG tidak mengambil alih Pabrik Gula tersebut, tanpa harus mengeluarkan keuangan sebagaimana yang dilakukan dengan pembelian PT GMM.

"Hasil kajian Bahana Securitas menyimpulkan bahwa perusahaan tersebut tidak efisien. Tapi anehnya Bulog tetap ngotot membelinya. APTRI sudah menginformasikan juga temuan ini ke Indonesia Coruption Watch bulan lalu. Saat ini masih dikaji," pungkasnya.

Baca juga:
Harga gula dipatok Rp 12.500 per Kg untungkan konsumen dan ritel
Penetapan harga gula jadi pintu pembenahan industri
Indef: Penetapan harga gula Rp 12.500/Kg dorong fungsi stabilisasi
Aceh darurat gula, harga tembus Rp 20.000 per kilogram
Menko Darmin sebut PTPN jadi penyebab harga gula naik
Ini solusi turunkan harga gula jadi Rp 12.500/Kg dari produsen
Mendag Lembong: Impor 381.000 ton gula, petani tak usah khawatir

(mdk/sau)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.