Sulit Cari Air, di Pelosok Kampung Ini ada Tradisi Jual Beli Sumur
Di kampung ini ada tradisi jual beli sumur karena sulit cari air.
Sebuah kampung di kampung Bunut, Desa Margaluyu, Kecamatan Purabaya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mempunyai tradisi unik yang jarang ditemukan di tempat lain. Tradisi tersebut adalah jual beli sumur.
Momen tersebut terungkap dan diunggah dalam sebuah video di channel Youtube Petualangan Alam Desaku. Di video tersebut, seorang pria yang melakukan liputan ke kampung Bunut memperlihatkan proses tradisi tersebut.
Hal itu disebabkan karena di kampung tersebut terkenal memiliki sumber air yang langka. Lantas, bagaimana keberlanjutan dan kisah menurut warga tentang tradisi jual beli sumur? Simak ulasannya sebagai berikut.
Kampung Tradisi Jual Beli Sumur
Seorang pria yang melakukan kunjungan ke kampung Bunut, Desa Margaluyu berniat untuk membuat aliran air bersih untuk warga. Satu-satunya cara yang ia lakukan adalah dengan membeli sumur milik salah seorang warga.
Di kampung itu, jual beli sumur adalah hal yang wajar. Ketika sumur telah dibeli, airnya bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga yang kekurangan air bersih, dan satu petak tanah lingkaran sumur diserahkan sepenuhnya kepada si pembeli.
“Jadi di sini ihwal jual beli sumur itu sudah biasa kawan-kawan. Dan ini kawan-kawan sumurnya nih,” ucap pria yang merekam momen jual beli sumur tersebut.
Harga Sumur Rp1,2 Juta
Meski di kampung Bunut warga kesulitan mendapatkan air, namun sumur yang dijual oleh warga juga tidak dipatok dengan harga mahal. Penjual sumur hanya menghargai sumurnya dengan uang Rp1,2 juta.
Dengan uang itu, pembeli sumur sudah bisa mendapatkan akses air bersih yang layak untuk kebutuhan sehari-hari dari sebuah lubang sumur yang memiliki kedalaman 30 meter tersebut.
“Jadi pak Lukman jadi yang dibeli itu ini ya yang se lingkaran ini. Kemarin harganya berapa? Rp1,2 juta ya sudah saya bayar lunas,” ucap pria yang merekam video tersebut.
Proses jual beli tersebut dilakukan untuk memberikan akses air bersih kepada warga. Jika pembeli sumur mengalami kekeringan air, maka penjual sumur masih berkewajiban untuk tetap memberi bantuan air melalui sumurnya yang lain.
“Mungkin nanti begini pak Lukman. Nanti kan kalau misalnya kemarau, pak Lukman kan nanti mau bantu ke sana, mau menyalurkan ke pak Pardi ke sana. Perjanjiannya kemarin kan begitu ya,” lanjutnya.