Lebih Dekat dengan 'Tahamata', Marga Milik Legenda Timnas Belanda yang Jabat Head Scouting PSSI
Simon Tahamata resmi dilantik menjadi Kepala Pemandu Bakat PSSI.
Mantan pemain Timnas Belanda dan Ajax Amsterdam, Simon Tahamata resmi ditunjuk sebagai Kepala Pemandu Bakat sepak bola nasional oleh PSSI.
Kariernya sebagai pesepakbola sangat mentereng di era tahun 1980-1990an terutama saat masih berseragam Ajax Amsterdam.
Selain di Belanda, Tahamata juga diketahui memiliki karier apik saat berada di Belgia bersama Beerschot dan Standrard Liege.
Sukses sebagai pemain, ia akhirnya melanjutkan karier sebagai pelatih usia muda. Ia menghabiskan waktu bertahun-tahun di akademi Ajax Amsterdam, membina dan mengasah talenta muda. Keahliannya dalam scouting membuatnya diangkat sebagai Kepala Pemandu Bakat Tim Nasional Indonesia pada Mei 2025.
Sosok Tahamata tentu tak asing di telinga publik tanah air mengingat ia memiliki nama belakang yang identik dengan Indonesia Timur.
Bukan hal yang mengherankan karena Tahamata memang berasal dari Maluku dan masih memegang budaya leluhurnya hingga sekarang.
Namun sebenarnya darimana marga Tahamata sebenarnya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini guna mengenal lebih dekat marga Tahamata.
Mengenal Marga Tahamata
Marga dalam tradisi masyarakat Indonesia, terutama di daerah seperti Maluku, memiliki peran penting dalam identitas dan keturunan keluarga.
Seperti marga Tahamata yang menjadi identitas yang melekat pada keluarga yang memiliki marga tersebut. Tahamata merupakan nama 'fam' yang berakar di Maluku, tepatnya di Maluku bagian Selatan.
Salah satu tokoh yang masih mempertahankan nama marga Tahamata adalah Simon Tahamata, seorang eks pemain sepak bola yang memiliki darah Maluku. Simon Tahamata diketahui memiliki darah Indonesia Timur, tepatnya dari Maluku.
Marga Tahamata sendiri, bersama dengan marga-marga lain seperti Sani, Mayor, Dan, Paa, Salamala, Sapisa, dan Malak, juga dikenal di kalangan masyarakat Maluku.
Eksodus Orang Maluku ke Belanda
Pada tahun 1950-an, Belanda masih mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia pasca kemerdekaanya. Salah satu masalah yang timbul adalah adanya Republik Maluku Selatan (RMS). RMS rencananya akan dibentuk negara baru dan berpisah dari Indonesia.
Pemberontakan yang terjadi di wilayah Maluku Selatan berhasil ditaklukan pasukan NKRI. Namun banyak tokoh separatis yang melarikan diri ke Belanda.
Menurut sejarahnya, ada sekitar 12.500 orang Maluku yang pindah ke Belanda termasuk para tokoh RMS.
Para imigran tersebut kebanyakan pindah menjadi WN Belanda guna mendapatkan hak dan akses secara legal. Termasuk diantaranya adalah Simon Tahamata yang berhasil menjadi salah satu pemain terbaik Belanda dan Ajax Amsterdam.
Sejak kecil Tahamata telah bergabung dengan akademi di Belanda. Puncaknya pada tahun 80-an ia memperkuat raksasa Belanda AFC Ajax Amstredam dan menjadi salah satu pemain andalan kala itu.
Selain Tahamata, ada beberapa warga keturunan Indonesia yang bersinar di Belanda seperti Roy Maakay, Ruud Gullit, Nigel De Jong, termasuk asisten pelatih Timnas Indonesia Denny Landzaat dan eks kapten Timnas Belanda Giovanni van Bronckhorst.
Tugas di Timnas Indonesia
Pengangkatan Simon Tahamata seabgai Kepala Pemandu Bakat PSSI terbilang mengejutkan. Tak sedikit yang mengatakan bahwa sosoknya adalah kepingan terakhir di jajaran pelatih Timnas Indonesia.
Tugas utama Simon Tahamata adalah menemukan dan mengembangkan talenta sepak bola berbakat untuk memperkuat Timnas Indonesia.
Sebagai Kepala Pemandu Bakat, Simon Tahamata memiliki peran krusial dalam mengidentifikasi dan merekrut talenta muda potensial.
Ia bertugas mencari pemain berbakat di seluruh Indonesia, termasuk pemain keturunan Indonesia di luar negeri, khususnya di Belanda. Untuk mencapai tujuan ini, ia akan membangun jaringan scouting global yang luas.
Tugasnya tak hanya mencari, namun juga memastikan pemain yang ditemukan sesuai dengan kebutuhan dan filosofi Timnas Indonesia. Simon akan fokus pada pencarian bakat lokal dan diaspora Indonesia di luar negeri.
Simon Tahamata tidak hanya mencari pemain, tetapi juga bertugas mengevaluasi potensi mereka. Penilaian meliputi kemampuan teknis, fisik, dan mental pemain. Ia juga harus memastikan para pemain yang terpilih sesuai dengan filosofi permainan Timnas Indonesia.