Kelakuan Licik Israel saat Gencatan Senjata dengan Hamas
Israel tetap menyerang Palestina saat gencatan senjata.
Gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang telah disepakati pada Rabu (15/1/2025) kemarin ternyata masih menyimpan duka bagi warga Palestina. Sebab, Israel justru bersiasat licik.
Meski Israel membebaskan sejumlah warga Palestina yang ditahan sesuai dengan isi kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, Israel justru melakukan penangkangkapan baru terhadap banyak warga Palestina di Tepi Barat.
Tak cuma itu, menghentikan serangannya di Gaza, Israel justru menyerang wilayah Tepi Barat.
Serangan tersebut terus melebar dan Israel juga terus menerus melakukan penangkapan terhadap puluhan warga Palestina. Bagaimana ulasan lengkapnya? Simak sebagai berikut.
Kelakuan Licik Israel saat Gencatan Senjata
Seperti semua warga di Tepi Barat, Alyeean berharap bisa merayakan kebebasan 90 tahanan Palestina yang akan dibebaskan saat itu. Namun pada 16 Januari tentara Israel justru menyerbu rumahnya.
Mengutip dari Al Jazeera, tentara Israel menculik putra Alyeean yang masih berusia 22 tahun. Ia bernama Adam, yang seharusnya mengikuti ujian universitas dalam beberapa hari mendatang.
“Mereka menangkapnya tanpa alasan. Tidak ada cara untuk membelanya atau keluarga saya. Kami bukan penyabotase,” kata Alyeean, 60 tahun.
Sejak pengumuman gencatan senjata di Gaza, Israel telah menangkap sedikitnya 95 warga Palestina dalam penggerebekan dan di pos pemeriksaan tanpa alasan yang jelas di seluruh Tepi Barat.
Menurut Jenna Abu Hasna, seorang peneliti di Addameer, sebuah organisasi masyarakat sipil Palestina yang memantau penangkapan dan penahanan di wilayah yang diduduki, banyak dari warga Palestina ditangkap dalam beberapa hari menjelang dimulainya gencatan senjata yang mulai berlaku pada Minggu 19 Januari.
"Situasi yang kami alami saat ini (di rumahnya) benar-benar sulit. Kami diperlakukan seperti budak, atau bahkan kurang dari budak," kata Alyeean.
Serangan Israel ke Jenin
Usai gencaran senjata di Gaza, Israel justru menyerang Jenin wilayah Tepi Barat. Sampai Selasa 21 Januari, serangan tersebut masih terus menyebar ke desa-desa di sekitar. Suara tembakan dan ledakan terdengar di mana-mana.
Menurut otoritas Palestina, operasi tersebut diketahui merenggut nyawa sekurang-kurangnya 17 orang dan melukai lebih dari 40 orang lainnya. Diperkirakan ada 3.000 keluarga yang mengungsi di pengungsian Jenin selama 2 bulan terakhir.
Media Israel melaporkan bahwa serangan ke Jenin adalah langkah politik Benjamin Netanyahu untuk memuaskan menteri keuangannya, Bezalel Smotrich yang tidak setuju dengan perjanjian gencatan senjata.
Hal itu dilakukan oleh Netanyahu agar Smotrich tidak mengundurkan diri karena bisa mengguncang pemerintahannya. Serangan itu menyebabkan ketegangan yang terus meningkat di seluruh wilayah Tepi Barat.
Sejak 7 Oktober 2023 lalu, serangan Israel ke Palestina telah merenggut lebih dari 47.300 nyawa warga Palestina dan melukai 111.500 lainnya. Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.
Sementara itu, menurut Kementerian Kesehatan Palestina, di wilayah pendudukan Tepi Barat, sedikitnya 873 warga Palestina telah tewas dan lebih dari 6.700 orang terluka akibat serangan rezim Zionis tersebut.