Ditanya Keadilan buat Wanita Korban Epstein, Trump Marah ke Jurnalis CNN dan Sebut 'Reporter Terburuk'
Trump kerap melakukan serangan verbal terhadap jurnalis, dan hal ini bukanlah kejadian yang jarang terjadi.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat memberikan pengarahan di Ruang Oval pada Selasa (3/2/2026), mengalihkan perhatian dari pertanyaan mengenai dokumen penyelidikan kasus Jeffrey Epstein yang baru dirilis. Dalam peristiwa tersebut, reporter CNN, Kaitlan Collins, menanyakan tentang kumpulan dokumen yang memuat sejumlah nama tokoh yang disebut sebagai rekan Epstein, termasuk CEO Tesla, Elon Musk, serta Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick.
Trump mengakui bahwa ia belum membaca dokumen tersebut, tetapi menyatakan bahwa penyebutan nama-nama itu mungkin tidak masalah. Ia berpendapat bahwa jika ada hal serius, berita besar pasti akan muncul. Namun, sejumlah media telah melaporkan tentang individu-individu yang disebut dalam dokumen tersebut.
Ketika Collins terus menekan Trump dengan pertanyaan lanjutan mengenai kasus Epstein, presiden AS itu meminta publik untuk berhenti membahas dokumen tersebut dan beralih ke isu lain.
"Saya pikir ini benar-benar sudah waktunya bagi negara ini untuk beralih ke hal lain," ujar Trump, seperti dikutip dari laporan Independent.
Saat Collins kembali mengajukan pertanyaan tentang keadilan bagi para perempuan yang menjadi korban jaringan Epstein, Trump menunjukkan kemarahan dan mengkritik CNN, menyebut Collins sebagai "reporter terburuk".
Ia juga menyinggung bahwa Collins adalah seorang perempuan muda dan mengeluhkan bahwa ia tidak pernah melihat senyuman di wajahnya. Collins membalas dengan menegaskan bahwa pertanyaannya berkaitan dengan para penyintas Jeffrey Epstein, tetapi Trump memotong pembicaraannya dan terus berbicara, menyatakan bahwa alasan Collins tidak tersenyum adalah karena ia "tahu bahwa Anda tidak mengatakan kebenaran".
Bukan yang Pertama
Setelah terjadinya dialog yang penuh ketegangan, pembawa acara Piers Morgan memberikan komentarnya. Dia menyoroti bahwa ekspresi wajah Collins tidak berhubungan dengan tugasnya, dan menyatakan bahwa Collins sering kali menunjukkan senyuman.
Pada malam Selasa, Collins berbincang dengan Jake Tapper dari CNN mengenai kejadian tersebut. Ia mengungkapkan bahwa ia telah berkomunikasi dengan para penyintas Epstein yang merasa kecewa karena banyak bagian dari dokumen yang telah disunting atau ditutupi.
"Saya baru saja berbicara dengan (seorang penyintas) pada Jumat (30/1) malam yang mengatakan bahwa seluruh wawancara saksi dengan FBI disunting. Seluruh halaman dihitamkan," kata Collins.
"Pertanyaan-pertanyaan ini nyata dan belum terjawab. Namun ketika presiden mengatakan sudah waktunya untuk berhenti membahas kasus ini dan beralih ke hal lain, banyak orang --- termasuk sebagian pendukungnya sendiri --- tidak sepakat," ujarnya.
Insiden ini bukanlah yang pertama kali Trump menyerang Collins secara verbal. Pada bulan Desember lalu, Trump menghina Collins setelah dia menanyakan mengenai biaya pembangunan ballroom baru di Gedung Putih.
"Caitlin Collins (sic) dari Fake News CNN, selalu Bodoh dan Jahat, menanyakan kepada saya mengapa Ballroom baru itu menghabiskan biaya lebih besar daripada yang diperkirakan satu tahun lalu," tulis Trump di Truth Social, dengan menuliskan nama Collins secara keliru.
Collins menjawab unggahan tersebut melalui akun Instagramnya, dengan menyebutkan bahwa, secara teknis, pertanyaan yang ia ajukan saat itu berkaitan dengan Venezuela. Sebelum unggahan Trump di Truth Social tersebut, pertanyaan terakhir yang diajukan Collins kepada Trump secara langsung di televisi adalah mengenai penghargaan perdamaian yang diberikan oleh FIFA kepada Trump serta isu Venezuela.
Bulan November 2025, Trump juga menyerang dua reporter perempuan, yakni Catherine Lucey dari Bloomberg dan Mary Bruce dari ABC News.