Cerita Pekerja Cibubur: Perjalanan 2 Jam, 3 Moda Transportasi, dan Biaya Rp1,4 Juta per Bulan
Sudah enam bulan terakhir, Tio dan keluarganya menetap di Cibubur, setelah memutuskan pindah dari apartemen di Kalibata.
Perjalanan dari kawasan penyangga menuju pusat ibu kota sering kali menjadi cerita penuh tantangan bagi para pekerja. Jarak yang tampaknya dekat di peta, nyatanya bisa berubah menjadi perjalanan panjang yang melelahkan setiap hari, seperti yang dialami oleh Tio (32), seorang karyawan swasta di bidang industri kreatif.
Sudah enam bulan terakhir, Tio dan keluarganya menetap di Cibubur, setelah memutuskan pindah dari apartemen di Kalibata, Jakarta Selatan. Meski jarak ke kantor menjadi lebih jauh, pilihan ini diambil demi kenyamanan keluarga kecilnya.
"Saya sudah enam bulan tinggal di Cibubur. Setiap hari harus ke kantor di Jakarta Pusat, tepatnya di daerah Gambir," ujar Tio memulai cerita kepada Liputan6.com, Selasa (5/8).
Menurut Tio, lingkungan tempat tinggal di Cibubur dirasa lebih mendukung untuk tumbuh kembang anak, dan harga properti pun relatif lebih terjangkau dibanding kawasan dalam Jakarta. Selain itu, keberadaan Stasiun LRT Harjamukti menjadi salah satu faktor pendukung utama keputusan tersebut.
Stasiun Harjamukti, yang berada di wilayah Depok, menjadi simpul transportasi penting yang menghubungkan area timur Jakarta dan sekitarnya ke pusat kota. Dari rumahnya, Tio mengandalkan ojol untuk menjangkau stasiun tersebut, dengan waktu tempuh bervariasi tergantung kepadatan lalu lintas.
Setiap hari, ia mengandalkan tiga moda transportasi untuk mobilitas, ojek online, LRT Jabodebek, dan TransJakarta. Rute perjalanannya cukup panjang—dimulai dari Harjamukti menuju Stasiun Rasuna Said dengan LRT, lalu dilanjutkan menggunakan bus TransJakarta hingga tiba di kantornya di kawasan Gambir.
"Jadi durasi perjalanan sekitar dua jam. Pulangnya pun bisa sama waktu tempuhnya," tutur Tio.
Secara hitungan kasar, Tio menghabiskan sekitar Rp33.500 untuk satu kali perjalanan (Rp15.000 untuk ojek, Rp15.000 untuk LRT, dan Rp3.500 untuk TransJakarta). Jika dikalikan hari kerja, biaya transportasi bulanan yang dikeluarkan mencapai Rp1,4 juta.
Dengan penghasilan setara Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta sekitar Rp5 juta, pengeluaran transportasi ini menjadi pos yang cukup signifikan dalam anggarannya. Untuk menyiasatinya, Tio memilih membawa bekal makan siang dan selalu sarapan di rumah agar tak tergoda jajan di perjalanan.
"Tapi saya tetap sediakan anggaran makan 30 sampai 50 ribu per hari. Kalau tidak terpakai, ya ditabung,” ucapnya.
Meski menempuh perjalanan panjang dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, Tio mengapresiasi perkembangan sistem transportasi publik Jakarta yang kini lebih terhubung. Menurutnya, LRT, TransJakarta, hingga KRL telah banyak membantu pekerja seperti dirinya yang tinggal di luar Jakarta.
Namun, ia juga menyoroti persoalan kenyamanan, terutama pada jam-jam sibuk. Kepadatan penumpang menjadi tantangan tersendiri, bahkan untuk moda baru seperti LRT yang dinilai masih belum cukup menampung lonjakan pengguna.
"Menurut saya, kalau mau ongkos dinaikkan tidak apa-apa asalkan armadanya ditambah dan lebih nyaman. Karena masyarakat juga pasti mau bayar lebih kalau bisa duduk dan tidak desak-desakan," katanya.