AS Segera Tambah Rudal Canggih di Filipina, Modal buat Perang Lawan China?
AS dan Filipina telah menjalin kemitraan yang kuat melalui perjanjian pertahanan yang dikenal sebagai Mutual Defense Treaty (MDT) yang ditandatangani 1951.
Amerika Serikat (AS) berencana untuk menambah jumlah sistem rudal canggih di Filipina dalam upaya memperkuat pertahanan melawan agresi di Laut China Selatan. Pengumuman ini disampaikan setelah pertemuan antara kedua negara sekutu pada Selasa (17/2/2026).
China telah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap penempatan sistem rudal jarak menengah AS yang dikenal sebagai Typhon di utara Filipina sejak 2024, serta peluncur rudal anti-kapal yang telah dipasang tahun lalu. Menurut China, keberadaan sistem persenjataan ini dimaksudkan untuk menghambat kebangkitan mereka dan memperingatkan bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan stabilitas kawasan.
China telah meminta Filipina untuk menarik peluncur rudal tersebut dari wilayahnya, namun permintaan itu ditolak oleh Filipina yang dipimpin oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr. Pada Senin (16/2), pejabat AS dan Filipina mengadakan pertemuan tahunan di Manila untuk membahas pengembangan kerja sama dalam bidang keamanan, politik, dan ekonomi, serta memperkuat kolaborasi dengan sekutu-sekutu keamanan regional.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Selasa, kedua negara menguraikan rencana pertahanan dan keamanan untuk tahun ini, termasuk latihan militer gabungan, dukungan AS dalam memodernisasi militer Filipina, serta penambahan sistem rudal dan drone mutakhir AS di Filipina.
Kedua sekutu yang telah lama menjalin hubungan ini juga menegaskan komitmen mereka untuk menjaga kebebasan navigasi dan penerbangan, perdagangan yang sah tanpa hambatan, serta pemanfaatan laut yang sah bagi semua negara.
"Kedua pihak mengecam aktivitas ilegal, koersif, agresif, dan menipu China di Laut China Selatan, serta mengakui dampaknya yang merugikan terhadap perdamaian dan stabilitas kawasan serta perekonomian Indo-Pasifik dan sekitarnya," demikian pernyataan tersebut.
Filipina: Murni Langkah Pencegahan
Ketegangan antara kapal penjaga pantai China dan Filipina di perairan yang dipersengketakan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selain kedua negara tersebut, Vietnam, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Taiwan juga terlibat dalam perselisihan wilayah di kawasan tersebut.
Walaupun demikian, kedua belah pihak tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai rencana penempatan rudal tambahan. Duta Besar Filipina untuk AS, Jose Manuel Romualdez, yang hadir dalam pertemuan pada hari Senin, menyatakan bahwa pejabat pertahanan dari kedua negara mendiskusikan kemungkinan penempatan peluncur rudal AS yang telah ditingkatkan kemampuannya pada tahun ini. Filipina, menurutnya, berpeluang untuk mempertimbangkan pembelian sistem tersebut di masa mendatang.
“Ini adalah sistem yang sangat canggih dan akan ditempatkan di sini dengan harapan, ke depannya, kami dapat memiliki sistem sendiri,” ungkap Romualdez kepada The Associated Press.
Ia menambahkan bahwa sistem rudal Typhon yang dikerahkan oleh Angkatan Darat AS ke wilayah utama Luzon di Filipina utara pada April 2024 dan peluncur rudal anti-kapal bernama Navy Marine Expeditionary Ship Interdiction System yang ditempatkan pada bulan yang sama tahun lalu saat ini masih berada di Filipina.
Dalam latihan gabungan, pasukan AS dilaporkan telah memamerkan sistem rudal tersebut kepada sejumlah personel militer Filipina untuk membiasakan mereka dengan kemampuan dan penggunaan senjata tersebut. Romualdez menegaskan bahwa penempatan rudal AS di Filipina tidak dimaksudkan untuk memusuhi negara mana pun.
“Ini murni untuk pencegahan,” katanya.
“Setiap kali China menunjukkan bentuk agresi apa pun, hal itu justru memperkuat tekad kami untuk memiliki sistem seperti ini.”
Peluncur rudal Typhon, yang merupakan sistem berbasis darat, memiliki kemampuan untuk menembakkan rudal Standard Missile-6 dan Tomahawk Land Attack Missile. Rudal Tomahawk memiliki jangkauan lebih dari 1.000 mil atau sekitar 1.600 kilometer, yang memungkinkan wilayah China berada dalam jangkauannya jika ditembakkan dari Luzon di Filipina utara.
Tahun lalu, Marinir AS juga menempatkan peluncur rudal anti-kapal Navy Marine Expeditionary Ship Interdiction System di Pulau Batan, Provinsi Batanes, yang menghadap Selat Bashi di selatan Taiwan.
Jalur laut tersebut merupakan rute perdagangan dan militer yang sangat penting, yang selama ini menjadi perhatian strategis baik bagi militer AS maupun China.