Tarif interkoneksi turun kompetisi bakal sehat
"Soal iklan atau pemasaran below the line, hendaknya tidak menggunakan kata atau kalimat yg menyerang operator lain."
Pengamat telekomunikasi dari ICT Institute, Heru Sutadi, berpendapat soal ketegangan yang sedang terjadi antara Indosat Ooredoo dan Telkomsel. Menurutnya, selain soal pemasaran, perlu dilihat juga akar masalahnya. Misalnya, seperti dominasi pasar, biaya interkoneksi atau apapun yang bisa dilakukan agar kompetisi sehat.
"Salah satu hal penting dalam kompetisi adalah biaya interkoneksi. Diharapkan dengan penurunan biaya interkoneksi berimbas terhadap kompetisi yang berjalan dengan baik. Jangan sampai pula persaingan jadi kian tidak sehat dan brutal," ungkapnya kepada Merdeka.com melalui pesan singkat, Selasa (21/06).
Dikatakannya, penurunan tarif interkoneksi seharusnya bisa mencapai angka 50 persen. Meski begitu, penurunan angka tersebut tidak bisa dilakukan secara serta merta, harus dilakukan secara bertahap. Sebagaimana diketahui, pemerintah telah mewacanakan akan menurunkan tarif interkoneksi sebesar 25 persen dan direncanakan diketok Juni ini.
"Harusnya sih bisa 50 persen, tapi secara bertahap 30 persen dulu itu udah oke," terangnya.
Terkait memanasnya persaingan yang tak sehat itu, pemerintah harus meminta pertanggung jawaban atas tindakan dua operator telekomunikasi dalam melakukan aktivitas promosi mereka. Kedua operator telekomunikasi itu adalah Indosat Ooredoo dan Telkomsel. Keduanya dianggap tak beretika dalam konteks pemasaran.
"Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) atau Menkominfo harus meminta pertanggungjawaban operator yang tidak mengindahkan etika dalam pemasarannya. Agar ada efek jera, siapapun operator, yang bersalah, harus tegas diberikan peringatan," ujarnya.
Menurutnya, tidak pantas jika dua operator telekomunikasi ternama di Indonesia bersaing tak sehat dengan cara menyerang satu yang lainnya dalam aktivitas promosinya. Sudah sepantasnya, jika ketika persaingan makin ketat, kesantunan justru harus ditegakkan.
"Soal iklan atau pemasaran below the line, hendaknya tidak menggunakan kata atau kalimat yg menyerang operator lain, sebab yg terjadi antar operator akan saling serang. Industri telekomunikasi tetap harus mengedepankan kesantunan dan promosi bermartabat," jelasnya.
Baca juga:
Pengamat minta pemerintah tindak tegas operator yang bersalah
Begini kata DPR soal rencana penurunan tarif interkoneksi
Hari ini Indosat, besok BRTI panggil Telkomsel
Bantah monopoli, ini alasan Telkomsel mendominasi di luar Jawa
Call center XL siap hadapi banjir panggilan saat Lebaran
Telko mainkan peran penting Internet of Things