Cara startup unicorn kembangkan skill SDM
Cara startup unicorn kembangkan skill SDM. Perusahaan rintisan digital atau startup saat ini tengah naik daun. Tak heran bila banyak orang yang ingin menjadi bagian dari karyawan sebuah startup. Hal itu juga diperkuat dengan hasil survey dari Jobplanet tahun 2015.
Perusahaan rintisan digital atau startup saat ini tengah naik daun. Tak heran bila banyak orang yang ingin menjadi bagian dari karyawan sebuah startup. Hal itu juga diperkuat dengan hasil survey dari Jobplanet tahun 2015, di mana para penggunanya memiliki keinginan untuk mengetahui budaya bekerja di startup.
Ketertarikan itu diamini juga oleh Florensia Lumowa, People & Organization Development Traveloka. Kata dia, dua tahun belakangan memang banyak orang yang menginginkan menjadi bagian dari Traveloka. Di perusahaan besutan Ferry Unardi itu, dikenal memberikan kesempatan bagi karyawannya untuk tumbuh dan berkembang.
“Kita memang akan lebih banyak inves di orang-orangnya,” katanya saat acara Ideafest 2017 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis (5/10).
Meski begitu, bukan berarti dengan banyaknya investasi di sumber daya manusianya (SDM), tidak ada tantangan yang akan dihadapi. Justru tantangannya adalah bagaimana menjamin keberadaan skill masing-masing SDM terus berkembang. Saat ini karyawan Traveloka saja sudah mencapai lebih dari 1.500 orang.
“Kita harus benar-benar punya sistem yang bisa menjangkau. Apalagi sekarang banyak milenial. Kita harus membekali mereka bagaimana nge-lead tim,” ungkap dia.
Tak hanya Traveloka, Tokopedia juga sama. Di Tokopedia sendiri, ada dua hal yang diterapkan bagi karyawannya sebelum bekerja. Menurut Co-Head of Marketplace Tokopedia, Garri Juanda, yang pertama adalah ada Nakama Akademi. Nakama itu merupakan panggilan untuk karyawan Tokopedia.
“Di Nakama Akademi itu menyiapkan dan memberikan pemahaman tentang budaya perusahaan sebelum terjun langsung ke lapangan,” katanya.
Kemudian yang kedua adalah body system. Body system ini semacam mentorship bagi calon karyawan baru Tokopedia.
“Satu orang, satu mentor. Jadi tak hanya kenal sebagai partner kerja, namun juga secara personal. Itu tujuannya,” jelasnya.
Baca juga:
Dibutuhkan pemerataan industri digital yang lebih
Ideafest 2017 digelar hari ini
COO Bukalapak galang dana untuk berangkatkan korban First Travel pergi umroh
Grab beri pendanaan ke startup mobil otomatis, Asia Tenggara akan punya?
Lawble.com, startup regulatory technology pertama di Indonesia
5 Bukti kerasnya keinginan Jokowi jadikan RI pemimpin ekonomi digital ASEAN
Jokowi: Saya sampaikan ke menteri, startup jangan dicekik dengan aturan berlebihan