Waspada Risiko BPA Galon Guna Ulang terhadap Pubertas Dini Anak, Kenali Ciri-cirinya
Faktor genetik tidak dapat dikendalikan, sedangkan faktor lingkungan masih bisa diminimalkan melalui pola hidup dan pengurangan paparan zat tertentu.
Paparan Bisphenol A (BPA) dari galon guna ulang dan kemasan plastik makanan-minuman dinilai dapat menjadi salah satu faktor lingkungan yang berkaitan dengan meningkatnya kasus pubertas dini pada anak.
Hal tersebut disampaikan pakar obstetri dan ginekologi, Budi Wiweko, dalam "Podcast Raditya Dika" bertajuk Akibat Puber Terlalu Cepat. Menurutnya, sejumlah zat kimia di lingkungan dapat mengganggu mekanisme kerja hormon dalam tubuh manusia.
"Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon," ujar Prof Budi dikutip Selasa (26/5).
Prof. Budi yang juga dikenal sebagai Prof. Iko menjelaskan, pubertas dini dipengaruhi faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik tidak dapat dikendalikan, sedangkan faktor lingkungan masih bisa diminimalkan melalui pola hidup dan pengurangan paparan zat tertentu.
Ia menyebut zat pengganggu hormon dapat ditemukan pada kemasan makanan, kemasan minuman, hingga polutan lingkungan.
Dalam konteks BPA, Prof. Budi menjelaskan senyawa tersebut memiliki karakteristik menyerupai hormon estrogen.
"Dia bisa menyerupai hormon estrogen. Dia bisa bekerja di tempat kerjanya estrogen,"katanya.
Menurut dia, BPA dapat memengaruhi organ sasaran hormon estrogen seperti rahim dan payudara. Karena itu, paparan BPA pada usia dini dinilai berpotensi memicu perkembangan fisik lebih cepat pada anak perempuan.
"Sehingga kalau ada perempuan terekspos dengan Bisphenol pada usia dini, memungkinkan payudaranya tumbuh lebih cepat, rahimnya tumbuh lebih cepat, sehingga terjadilah pubertas dini tadi,"ucapnya.
Ia menambahkan, risiko pubertas dini tidak hanya terkait perubahan fisik, tetapi juga dapat berdampak pada kondisi psikologis anak karena perkembangan tubuh terjadi lebih cepat dibandingkan teman sebayanya.
Sejumlah pakar dari Endocrine Society juga mengaitkan pubertas dini dengan peningkatan risiko masalah psikososial, obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, hingga kanker payudara.
Terkait sumber paparan sehari-hari, Prof. Iko mengatakan BPA paling banyak ditemukan pada kemasan makanan dan minuman, termasuk galon air minum guna ulang.
"BPA paling banyak terjadi di kemasan makanan, kemasan minuman,"ujarnya.
Menurut dia, penggunaan galon menjadi salah satu produk kemasan yang perlu mendapat perhatian masyarakat. Ia juga menyinggung ketentuan BPOM RI yang menetapkan batas migrasi BPA maksimal 0,6 bagian per juta dalam kemasan pangan.
Selain berkaitan dengan pubertas dini, Prof. Iko menilai isu BPA juga perlu dilihat dari aspek kesehatan reproduksi secara umum. Ia menyebut zat pengganggu hormon seperti Bisphenol dan Dioksin dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan reproduksi.
Menurut dia, paparan tersebut dapat berhubungan dengan kista endometriosis, gangguan pematangan sel telur, gangguan ovulasi, kesulitan hamil, miom, hingga kanker.
Pada ibu hamil, Prof. Iko mengingatkan pentingnya kehati-hatian sejak awal masa kehamilan.
"Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan itu,"katanya.
Kesiapan Keluarga
Dari sisi psikologis, psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pubertas dini juga berkaitan dengan kesiapan keluarga dalam mengenali perubahan pada anak.
"Pubertas dini makin meningkat karena biasanya mungkin orang tua tidak langsung tahu bahwa anaknya (mengalami) pubertas dini. Justru ini ditemukan setelah mereka konsul," ujar Ratih.
Pengaturan Pola Hidup
Ia menambahkan, pencegahan juga perlu dilakukan melalui pengaturan pola hidup anak, termasuk pola tidur, pola makan, dan perhatian terhadap konsumsi produk yang berpotensi mengandung BPA.
Karena itu, para pakar menilai kewaspadaan terhadap penggunaan galon dan kemasan plastik guna ulang perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan paparan zat pengganggu hormon sejak dini.
Orang tua diimbau lebih cermat memperhatikan jenis kemasan makanan dan minuman yang digunakan anak, membaca informasi produk, serta memilih kemasan bebas BPA guna mengurangi risiko paparan jangka panjang terhadap kesehatan hormon dan reproduksi anak.