LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. SEHAT

Jutaan Orang Naik KRL, Tapi Bahaya Ini Sering Dianggap Sepele

Setiap hari menggunakan KRL, dokter memperingatkan tentang risiko kesehatan yang mungkin tidak terlihat. Apa saja risiko tersebut?

Senin, 04 Mei 2026 18:48:00
krl commuter line
Suasana Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Calon penumpang menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker. (Liputan6.com/Herman Zakharia) (© 2026 Liputan6.com)
Advertisement

Rutinitas menggunakan KRL telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari jutaan orang di Jabodetabek. Setiap pagi dan sore, stasiun dipenuhi penumpang yang bergegas menuju tempat kerja, namun di balik aktivitas ini terdapat risiko kesehatan dan keselamatan yang sering diabaikan. Ketua HCC Indonesia, Dr. Ray Wagiu Basrowi, mengingatkan bahwa perjalanan harian atau commute bukanlah sekadar aktivitas biasa. Dampak dari perjalanan tersebut dapat langsung dirasakan pada kondisi fisik dan mental seseorang.

"Perjalanan harian memengaruhi tekanan darah, hormon stres, kualitas tidur, kesehatan mental, hingga produktivitas kerja," ungkap Ray.

Menurutnya, komuter yang mengalami kelelahan kronis cenderung lebih rentan terhadap penyakit, mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecelakaan. Sayangnya, banyak orang masih menganggap hal ini sepele. Salah satu risiko terbesar adalah kurang tidur. Banyak komuter terpaksa bangun sangat pagi untuk menghindari kepadatan, yang mengakibatkan waktu tidur mereka sering terpangkas. Tidur kurang dari enam jam dapat menurunkan konsentrasi dan refleks, dan dalam situasi padat seperti di peron atau dalam kereta, kondisi ini bisa menjadi sangat berbahaya.

Selain itu, dehidrasi juga sering terjadi tanpa disadari. Banyak penumpang yang sengaja mengurangi asupan cairan agar tidak perlu ke toilet selama perjalanan. Kebiasaan ini justru berpotensi memicu pusing, lemas, jantung berdebar, dan penurunan fokus saat bekerja. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah postur tubuh.

Advertisement

Berdiri dalam waktu lama sambil membawa tas berat dapat menyebabkan nyeri pada leher, pinggang, dan lutut. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, dapat berkembang menjadi gangguan muskuloskeletal yang umum dialami oleh pekerja urban.

Di sisi lain, kondisi kereta yang padat juga meningkatkan risiko fisik dan psikologis. Desakan penumpang dapat menyebabkan kehilangan keseimbangan, sesak napas, hingga serangan panik. Belum lagi stres akibat keterlambatan, kebisingan, atau kekhawatiran terlambat kerja yang terus menumpuk setiap hari. "Komuter yang lelah kronis lebih mudah sakit, emosi naik, fokus turun, dan rentan kecelakaan," tegas Ray.

Advertisement

Risiko Kecelakaan

Suasana Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Senin (1/2/2021). Calon penumpang menerapkan protokol kesehatan dengan memakai masker. (Liputan6.com/Herman Zakharia) © 2026 Liputan6.com

Ray juga menekankan adanya risiko kecelakaan yang mungkin terjadi akibat gangguan operasional, seperti rem mendadak atau situasi evakuasi yang panik. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat menyebabkan cedera massal. Oleh karena itu, Ray mengingatkan pentingnya menerapkan kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan dan keselamatan saat commute. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain tidur yang cukup, sarapan dengan makanan ringan yang kaya protein, serta memastikan tubuh terhidrasi dengan baik sebelum berangkat.

Selain itu, para komuter disarankan untuk mengenakan alas kaki yang aman, tidak terburu-buru saat berada di stasiun, dan tetap waspada terhadap lingkungan sekitar. Saat berada di dalam kereta, menjaga keseimbangan sangatlah penting, tidak bersandar pada pintu, dan segera meminta bantuan jika merasa pusing atau sesak.

Advertisement

Tak kalah penting, kenali sinyal tubuh. Gejala seperti pusing berulang, nyeri di dada, sesak napas di keramaian, hingga rasa panik saat naik kereta adalah tanda-tanda yang tidak boleh diabaikan. Pada akhirnya, meskipun bekerja itu penting, menjaga kesehatan fisik dan mental selama perjalanan adalah hal yang jauh lebih krusial. "Kerja penting. Tapi sampai kerja dengan tubuh dan mental yang selamat jauh lebih penting," pungkas Ray.

Berita Terbaru
  • Tragis, Pelajar Berusia 15 Tahun di Karawang Jadi Korban Pembunuhan Berencana Temannya
  • BYD Bakal Hadirkan Opsi Baru Atto 1 Harga Murah
  • Pemprov Sumsel Siap Sinkronkan Tata Ruang Proyek Tol Tanjung Carat
  • Kantor Imigrasi Sabang Gelar Edukasi Keimigrasian untuk Pelajar SD, Perkuat Pemahaman Sejak Dini
  • Polresta Bulungan Kerahkan 380 Personel untuk Pengamanan Kenaikan Yesus Kristus 2026
  • berita update
  • konten ai
  • krl commuter line
  • kurang tidur
Artikel ini ditulis oleh
Editor Pandasurya Wijaya
A
Reporter Aditya Eka Prawira
Disclaimer

Artikel ini dihasilkan oleh AI berdasarkan data yang ada. Gunakan sebagai referensi awal dan selalu pastikan untuk memverifikasi informasi lebih lanjut sebelum mengambil keputusan.

Berita Terpopuler

Berita Terpopuler

Advertisement
Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.