Jangan Abaikan Saraf Kejepit, Dampaknya Bisa Mengganggu Kehidupan Sehari-hari
Jangan remehkan masalah saraf kejepit, karena kondisi ini dapat mengakibatkan gangguan pada hantaran listrik dalam sistem saraf.
Saraf kejepit sering kali dianggap sepele dan tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari masyarakat. Padahal, kondisi ini sebaiknya ditangani sesegera mungkin. Menurut dokter spesialis bedah saraf tulang belakang, Farid Yudoyono, saraf kejepit dapat mengakibatkan penurunan hantaran listrik dalam sistem saraf yang menghubungkan otak dengan bagian tubuh lainnya.
"Saraf kejepit adalah salah satu penyakit yang terjadi karena kerusakan saraf akibat tekanan, baik tekanan tidak secara langsung maupun secara langsung. Gejala biasanya diawali dengan kesemutan, otot paha dan kaki menjadi lemah, rasa nyeri yang sangat hebat di pinggang yang menjalar menuju tumit mengikuti alur syaraf," jelas Farid dalam keterangannya di laman Rumah Sakit Santosa, Bandung.
Farid menambahkan bahwa serabut saraf merupakan jaringan serat yang menghubungkan organ tubuh dengan otak dan sumsum tulang belakang, serta sistem saraf lainnya. Jaringan ini berfungsi untuk mengirimkan pesan dari dan menuju otak serta sumsum tulang belakang ke seluruh bagian tubuh.
"Saraf manusia ini seperti jalinan kawat elektrik atau pipa air yang membawa informasi dari otak menuju seluruh bagian tubuh dan sebaliknya," ungkap Farid.
Ia juga menjelaskan bahwa jika terjadi jepitan pada saraf yang menyebabkan kerusakan atau luka, maka saraf tersebut tidak dapat menjalankan fungsi penghantaran impuls dengan baik. Penyebab saraf kejepit bervariasi, tetapi umumnya terjadi di tiga area tubuh:
1. Saraf Kejepit pada Leher dan Pinggang Bawah
Saraf kejepit di leher atau pinggang bawah dapat disebabkan oleh penonjolan cakram sendi (bone spurs, arthritis) atau penyempitan tulang belakang (Spinal Stenosis), yang merupakan penyempitan pada bagian lubang atau kolom tulang belakang. Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah kondisi yang sering terjadi akibat penuaan dini, di mana bantalan cakram antar ruas tulang belakang menonjol. HNP juga menjadi penyebab utama kelumpuhan pada tungkai bawah.
2. Saraf Kejepit pada Pergelangan Tangan dan Siku
Saraf kejepit di pergelangan tangan biasanya disebabkan oleh carpal tunnel syndrome, di mana terjadi kompresi pada saraf median saat melewati jaringan yang terbatas di pergelangan. Selain itu, cubital tunnel syndrome adalah kondisi serupa yang diakibatkan oleh kompresi saraf ulnar di siku. Penderita diabetes dan mereka yang sering menggunakan keyboard komputer atau laptop rentan mengalami saraf kejepit di pergelangan tangan dan siku.
3. Penyebab Lain Saraf Kejepit
Pembengkakan di sekitar saraf dapat disebabkan oleh trauma, luka, atau kondisi lain, termasuk pembengkakan yang terjadi selama kehamilan. Faktor genetik dan keturunan juga dapat berkontribusi pada munculnya penyakit saraf kejepit.
Gejala yang muncul akibat saraf terjepit
Farid menjelaskan bahwa gejala saraf kejepit dapat bervariasi, tergantung pada lokasi penjepitan saraf tersebut. Setiap saraf memiliki peran penting dalam mengirimkan pesan atau informasi dari dan ke bagian-bagian tertentu di tubuh.
1. Gejala umum saraf kejepit:
- Nyeri atau nyeri yang menjalar
- Kekakuan otot
- Kesemutan
- Mati rasa
- Kelemahan otot sepanjang jalur saraf
2. Gejala berdasarkan lokasi: Dokter dapat menentukan bagian saraf yang terjepit dengan melihat bagian tubuh yang mengalami rasa sakit akibat saraf kejepit tersebut. Misalnya, saraf kejepit di leher dapat menyebabkan nyeri yang diiringi gejala serupa pada lengan. Selain itu, saraf kejepit di punggung bawah dapat memicu nyeri dan kekakuan pada punggung, bahkan gejala dapat menjalar hingga ke tungkai. Saraf kejepit di pergelangan tangan dapat langsung memengaruhi jari tengah, jari telunjuk, atau ibu jari, dan juga dapat menyebabkan penurunan kekuatan menggenggam. Sedangkan, saraf kejepit yang terjadi di siku dapat berpengaruh pada jari keempat, jari kelingking, serta lengan bawah.
Segera lakukan perawatan kesehatan
Farid menekankan bahwa kondisi berbahaya dapat muncul jika syaraf kejepit tidak diatasi dengan segera. Terdapat dua ancaman utama yang mengintai ketika syaraf kejepit dibiarkan tanpa penanganan, yaitu: 1. Gangguan pada kompleksitas jaringan saraf. Seseorang mungkin tidak dapat membedakan antara suhu panas dan dingin, merasakan kebahagiaan atau rasa sakit, serta mengalami mati rasa, nyeri, dan kelemahan. Jika kondisi ini diabaikan, dapat berakibat pada luka bakar atau trauma lain karena pasien tidak merasakan nyeri saat bersentuhan dengan benda panas atau berbahaya.
2. Kerusakan permanen pada jaringan saraf. Jika kondisi ini dibiarkan dalam waktu yang lama, dapat menyebabkan kerusakan saraf yang bersifat menetap. Kerusakan ini dapat mengakibatkan hilangnya koordinasi fisik, keseimbangan, serta sensitivitas yang berlebihan terhadap semua jenis kontak fisik.
Gejala yang mungkin dialami pasien termasuk kelumpuhan pada lengan atau tungkai, hilangnya kemampuan untuk mengontrol buang air kecil atau besar, serta impotensi.
"Sebagian besar kasus syaraf kejepit tidak memerlukan tindakan operasi jika penanganan dilakukan sejak dini," jelas Farid.
Ia menjelaskan bahwa untuk mendiagnosis seseorang yang mengalami syaraf kejepit, dapat dikenali melalui gejala umum yang dirasakan, seperti nyeri, kesemutan, kelemahan, dan mati rasa. Selanjutnya, Farid menekankan pentingnya mengetahui lokasi di mana gejala tersebut paling terasa. Ia juga menyoroti perlunya memahami pekerjaan dan kebiasaan sehari-hari pasien.
"Riwayat keluarga yang mengalami masalah serupa juga perlu diperhatikan," tambah Farid.
Sistem saraf pada manusia
Saraf dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori utama. Pertama, ada Saraf Sensorik, yang berfungsi untuk mengirimkan impuls dari reseptor menuju sistem saraf pusat, yang mencakup otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis).
Kedua, terdapat Saraf Motorik, yang bertugas mengalirkan impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar, menghasilkan respon tubuh terhadap rangsangan, yang dikenal sebagai iritabilitas.
Ketiga, kita memiliki Saraf Intermediet, yang juga disebut saraf asosiasi. Saraf ini ditemukan dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motorik dengan sel saraf sensorik atau berinteraksi dengan sel saraf lain yang ada di dalam sistem saraf pusat.