Sekjen NasDem: Reshuffle itu kapanpun bisa terjadi
Patrice Rio Capella menyebut tak menutup kemungkinan Presiden Joko Widodo bakal melakukan reshuffle kabinet jilid II.
Sekjen Partai NasDem Patrice Rio Capella menyebut tak menutup kemungkinan Presiden Joko Widodo bakal melakukan reshuffle kabinet jilid II. Hal tersebut ia katakan saat dimintai tanggapannya perihal pernyataan Politikus PDIP Hendrawan Supratikno yang menyebut Jokowi akan melakukan reshuffle kembali pada bulan Oktober mendatang.
"Reshuffle itu kapanpun bisa terjadi tidak ada yang bisa menjamin bahwa reshuffle kemarin itu adalah reshuffle pertama dan terakhir," kata Rio di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (25/8).
Menurut Rio, apabila Jokowi memang belum puas dengan kinerja para menteri Kabinet Kerja, maka sudah sepantasnya Jokowi melakukan kembali bongkar pasang kabinet. Sehingga, melalui reshuffle kabinet diharapkan Jokowi menunjuk orang yang lebih cakap ketimbang mempertahankan menteri yang tidak becus dalam bekerja.
"Kalau kemudian tim kabinet ini tidak bisa memberikan harapan apa-apa di publik saya yakin presiden akan mempertimbangkan ulang untuk mencari pos-pos tertentu yang dianggap memberikan persepsi positif bagi pemerintahan," katanya.
Anggota Komisi III DPR ini menilai tujuan dari reshuffle kabinet merupakan sebuah cara dari pemerintah untuk meyakinkan masyarakat bahwa Indonesia bisa lepas dari ancaman krisis ekonomi. Sehingga, kata dia, apabila ada menteri yang membuat gaduh di tengah merosotnya perekonomian, mungkin saja menteri tersebut bakal ditendang dari Kabinet Kerja.
"Jadi yang paling penting menurut saya di samping bekerja tim ini dengan baik tapi juga memberikan persepsi positif. Oke, misalnya para menteri bisa bekerja dengan baik, kerjasama tim baik tapi kalau ada pernyataan yang diumbar ke publik persoalan-persoalan yang bisa dibicarakan di dalam, belum ada upaya membicarakan tapi bicarakan ke luar itu kan menimbulkan persepsi negatif," tukasnya.
Sebelumnya, Politikus PDIP Hendrawan Supratikno mengatakan, perombakan Kabinet Kerja akan kembali dilakukan oleh Presiden Jokowi pada bulan Oktober mendatang. Sebab, menurutnya, prakondisi menjelang reshuffle jilid 2 sedang direncanakan untuk menteri yang bakal dicopot.
"Jilid kedua Oktober lah atau akhir tahun, apa itu kementeriannya ya nantilah. Ada sejumlah prakondisi reshuffle dilakukan, kinerja tidak moncer, koordinasi tidak solid," kata Hendrawan di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (18/8).
Anggota Komisi DPR XI ini juga mengatakan, publik sudah mengetahui mengenai menteri yang tidak bekerja secara maksimal. Selain itu, para menteri dalam Kabinet Kerja juga sudah tidak solid.
"Kinerja tidak maksimal, ekspektasi tidak solid ternyata masih, ekspektasi publik, siapa-siapa menteri yang kurang pas. Waktu diumumkan kita tahu yang kurang, itu menjadi pengetahuan publik," kata dia.
Lanjut dia, penilaian menteri yang bakal dicopot nantinya dari sebuah lembaga survei. Presiden Jokowi sudah mengetahui menteri mana yang akan digantinya.
"Ya juga dong, Pak Jokowi melakukan reshuffle minimalis, tidak menimbulkan goncangan, perhitungan tepat. Yang kurang tepat kan katanya Sofyan Djalil di Bapennas, tetapi tepat juga ketika satuan tiga akan dikelola Bappenas. Thomas Lembong dikritik tidak tepat, ternyata latar belakang investment analyst, kalau begitu track record mirip Gita Wirjawan," kata dia.
Baca juga:
Jokowi: Serapan anggaran modal APBN 2015 baru 20 persen
Pengamat: Ekonomi sulit, perlu soliditas pemerintah
Jadikan Rizal Ramli menteri, Jokowi dinilai taruh singa di kabinet
Nasdem soal reshuffle jilid II: Bukan obat mengatasi masalah bangsa
Presiden Jokowi belum siapkan pengganti Luhut sebagai kepala staf
NasDem sebut Jokowi-KIH belum ada pembahasan soal reshuffle jilid II
Menko Luhut sebut tim ekonomi yang baru lebih kuat