Mundur jelang putusan, Setnov dinilai tak jantan
Dia menilai sidang itu antiklimaks.
Sidang pelanggaran etik Setya Novanto di Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) dinilai antiklimaks. Apalagi sejumlah fraksi malah mengusulkan pembentukan panel.
"Apakah puas sidang yang panjang, tentu tidak puas, tidak ada putusan. Yang ada kumpulan putusan," kata Direktur Executive Lingkar Madani (LIMA), Ray Rangkuti, dalam Konfrensi Pers Koalisi Masyarakat Anti Mafia Parlemen tentang Putusan MKD atas Kasus Setnov, di Dres Kopitiam, Jalan Agus Salim No 23, Jakarta Pusat, Kamis (17/12).
Dia juga menilai sikap pengunduran diri yang diambil Setnov sangat tidak gentleman. Apalagi hal itu baru disampaikan di akhir-akhir persidangan.
"Ini omong kosong, soalnya tinggal diketok. Pengunduran diri ini cara yang tidak gentle Novanto," ujarnya.
Menurut Ray, selama persidangan kasus itu, sikap Fraksi Golkar dan Gerindra dinilainya paling aneh. Keduanya dianggap tak sungguh-sungguh menyidang kasus itu.
"Awal mereka mempermasalahkan legal standing, kok akhir menghukum berat. Ini di luar nalar. Ini aneh. Dari Golkar dan Gerindra tidak ada keinginan tulus dari mereka," katanya.
Baca juga:
Sidang terakhir kasus Setya Novanto di MKD seperti dramaturgi
Akbar Faizal anggap Ridwan Bae disetir Fahri Hamzah dalam MKD
Kasus Setnov terjadi karena Jokowi tak bisa kontrol kekuatan politik
Akbar Faizal kecewa MKD malah bacakan surat Setnov bukan beri sanksi
Desmond: Paling hebat Novanto adalah ketua DPR yang melanggar etik
Undang pelawak ke Istana, cara Jokowi sindir dagelan MKD
Wacana kocok ulang pimpinan DPR bisa bikin kegaduhan baru