Anggota DPR Dorong Peta Jalan Logam Tanah Jarang Nasional Perkuat Industri Strategis
Anggota Komisi XII DPR RI menyerukan penyusunan Peta Jalan Logam Tanah Jarang nasional yang terintegrasi, krusial untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis global dan menarik investasi berkualitas.
Anggota Komisi XII DPR RI, Dewi Yustisiana, mendesak pemerintah untuk segera menyusun peta jalan atau roadmap nasional logam tanah jarang (LTJ) yang terintegrasi. Dorongan ini bertujuan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global mineral kritis yang kebutuhannya terus meningkat.
Penyusunan kebijakan yang jelas, terarah, dan berbasis data sangat penting sebagai respons terhadap lonjakan permintaan dunia akan mineral berbasis teknologi tinggi. Langkah strategis ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki Indonesia dalam pengembangan LTJ secara berkelanjutan.
Dewi menegaskan bahwa Indonesia memiliki peluang signifikan dalam pengembangan logam tanah jarang, namun tanpa Peta Jalan Logam Tanah Jarang nasional yang terintegrasi, pengelolaannya berisiko berjalan parsial. Peta jalan ini krusial untuk memastikan nilai tambah optimal bagi industri nasional dan daya saing global.
Fondasi Industri Bernilai Tambah Tinggi
Dewi Yustisiana menekankan bahwa pengelolaan logam tanah jarang memerlukan dukungan inventori nasional yang akurat, serta penguatan riset dan koordinasi lintas sektor. Pendekatan komprehensif ini dinilai esensial untuk membangun ekosistem industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri.
Inventori yang tepat akan memberikan gambaran jelas mengenai cadangan dan potensi LTJ di Indonesia, sementara riset yang mendalam akan membuka inovasi dalam pengolahan dan pemanfaatan. Koordinasi lintas sektor memastikan semua pemangku kepentingan bergerak dalam satu visi dan tujuan pengembangan.
Dengan adanya Peta Jalan Logam Tanah Jarang yang terintegrasi, Indonesia dapat menghindari pengelolaan yang sporadis dan tidak efisien. Hal ini akan memungkinkan pengembangan industri hulu hingga hilir secara berkelanjutan, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing bangsa di kancah internasional.
Penguatan kapasitas teknologi nasional juga menjadi fokus utama dalam penyusunan peta jalan ini. Dengan teknologi yang mumpuni, Indonesia dapat mengolah LTJ menjadi produk bernilai tinggi, bukan hanya sebagai bahan mentah.
Menarik Investasi dan Menjaga Kelestarian Lingkungan
Peta jalan nasional logam tanah jarang juga akan memberikan kepastian arah hilirisasi mineral, yang pada gilirannya akan meningkatkan kepercayaan investor terhadap pengembangan industri strategis nasional. Kejelasan kebijakan merupakan faktor kunci dalam menarik investasi berkualitas.
Investasi yang masuk tidak hanya sekadar modal, tetapi juga transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal. Ini akan memperkuat fondasi industri nasional dalam jangka panjang, menjadikannya lebih mandiri dan inovatif dalam menghadapi tantangan global.
Di samping itu, Dewi mengingatkan bahwa pengembangan LTJ harus tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan dan tata kelola yang baik. Penguatan industri mineral strategis harus selaras dengan perlindungan ekosistem dan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Keseimbangan antara eksploitasi mineral dan konservasi lingkungan menjadi prioritas utama dalam setiap tahapan pengembangan. Dengan demikian, kekayaan alam Indonesia dapat dimanfaatkan secara optimal tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang. Ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap pembangunan yang bertanggung jawab.
Sumber: AntaraNews