LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. POLITIK

Akbar Tandjung dengar isu Jokowi dukung Setnov, JK dukung Akom

Akbar pun menjelaskan, Jokowi tentunya punya kepentingan karena Golkar punya banyak pengalaman.

2016-05-16 10:14:59
Calon Ketum Golkar
Advertisement

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung menyesalkan isu pemerintah obok-obok Munaslub Golkar. Hal ini berkaitan isu Presiden Jokowi dukung Setya Novanto (Setnov) dan Wapres Jusuf Kalla dukung Ade Komarudin.

"Saya memang sudah mendengar bahwa ada campur tangan pemerintah dalam menentukan siapa yang akan menjadi ketua umum Partai Golkar ke depannya. Tentu saja hal ini membuat saya sedih melihat Partai Golkar yang hampir hancur ketika tumbangnya rezim orde baru dan mampu bertahan, kini kondisinya seperti ini,” ujar Akbar di sela-sela penyelenggaraan Munaslub di Nusa Dua, Bali, Senin (16/5).

Akbar mengakui dirinya sebenarnya mendukung Airlangga Hartarto sebagai ketua umum. Namun melihat campur tangan kekuasaan yang ada, maka akan terjadi polarisasi pada dua calon ketua umum yaitu Setya Novanto dan Ade Komaruddin karena memang menurutnya hanya keduanya yang didukung oleh pemerintah.

Advertisement

"Isu yang beredar bahwa Novanto didukung oleh Jokowi melalui Luhut Pandjaitan, sementara Akom didukung oleh Jusuf Kalla untuk menjadi ketua umum. Campur tangan seperti ini seharusnya tidak terjadi karena para pemilih suara memilih secara fair dengan melihat visi misi, rekam jejak, PDLT, latar belakang profesin dan sebagainya. Intinya harus objektif,” tambahnya.

Ditanyakan apa kepentingan Jokowi dan JK sehingga berupaya meletakkan orang-orang yang didukung sebagai ketua umum, Akbar pun menjelaskan, Jokowi tentunya punya kepentingan karena bagaimanapun Golkar adalah partai besar yang kaya pengalaman politik.

”Yang jelas kalau seperti ini petanya bisa saja ada konflik di pemerintahan antara RI 1 dan RI 2. Lagian memang kita tidak jelas menjalankan sistem presidensialnya. Kalau presidensial murni seperti di Amerika Serikat kan wapresnya tidak pernah kelihatan, tidak seperti di Indonesia,” ujar Mantan Mensesneg era Orde Baru ini lagi.

Advertisement

Baca juga:
Komite Etik sebut malam ini puncak money politik Munaslub Golkar
Banyak didukung DPD, Timses Setnov bilang 'Kami tidak kaget'
Priyo: Ical minta saya maju terus jadi caketum Golkar
Wapres Jusuf Kalla tak tahu manuver Luhut di Munaslub Golkar
Tim Setnov sudah rangkul caketum lain buat putaran dua
Tepis Luhut, JK yakin Jokowi tak larang Ketum Golkar rangkap jabatan
Beredar SMS, DPD yang dukung Setya Novanto diguyur Rp 3 miliar

(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.