Wayang Kulit Gontor: Media Dakwah dan Pendidikan Karakter di Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor
Peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor dimeriahkan dengan pagelaran Wayang Kulit Gontor yang menjadi sarana dakwah, pendidikan karakter, serta pelestarian budaya bagi santri dan masyarakat.
Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) merayakan satu abad berdirinya dengan menggelar pertunjukan Wayang Kulit Gontor istimewa. Acara ini berlangsung meriah di Lapangan Hijau Gontor, Desa Gontor, Mlarak, Ponorogo, Jawa Timur. Ribuan santri, guru, serta masyarakat umum turut memadati lokasi pada Sabtu (6/6) malam hingga Minggu dini hari untuk menyaksikan pagelaran tersebut.
Pagelaran Wayang Kulit Gontor ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah sarana dakwah dan pendidikan karakter yang mendalam. Pertunjukan ini menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan 100 Tahun PMDG. Tujuannya adalah untuk menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda dan masyarakat luas.
Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal, menjelaskan bahwa Wayang Kulit Gontor telah menjadi tradisi dalam peringatan besar di Gontor. Seni pewayangan ini dinilai sarat dengan nilai pendidikan serta pelajaran kehidupan yang relevan. Kehadiran dalang Ki Bayu Aji dari Surakarta dengan lakon "Parikesit Dadi Ratu" semakin menambah kekhidmatan acara tersebut.
Wayang Kulit Gontor sebagai Media Dakwah dan Pendidikan Karakter
KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa Wayang Kulit Gontor berfungsi sebagai alat mendidik santri agar mampu bergaul di tengah perbedaan. Seni ini mengajarkan kemampuan berinteraksi dengan siapa saja, meskipun memiliki latar belakang atau bahasa yang berbeda. Hal ini menunjukkan betapa fleksibelnya wayang kulit dalam menyampaikan pesan-pesan universal.
Tema yang diusung dalam pagelaran ini, "Mensyukuri Masa Lalu Dengan Nilai-Nilai Abadi dan Membekali Masa Yang Akan Datang dengan Berbagai Tantangan," sangat relevan. Tema tersebut mengajak penonton untuk merenungkan nilai-nilai sejarah Gontor. Selain itu, tema ini juga mempersiapkan santri menghadapi tantangan masa depan dengan bekal moral dan keagamaan yang kuat.
Pimpinan PMDG lainnya, KH Akrim Mariyat, menambahkan bahwa Wayang Kulit Gontor memiliki kesamaan dengan sistem pendidikan pondok modern. Keduanya sama-sama berfokus pada pengajaran nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda. Pesan-pesan moral yang terkandung dalam setiap lakon wayang kulit sejalan dengan tujuan pendidikan di Gontor.
Menurut Akrim, kekuatan utama pewayangan terletak pada pesan dan nilai syiar yang disampaikan, bukan hanya pada dalang atau perangkat pertunjukannya. "Yang paling berperan adalah blencong atau syiar yang terkandung di dalamnya," ujarnya. Ini menekankan pentingnya esensi spiritual dan edukatif dari seni ini.
Melestarikan Budaya dan Mengajarkan Nilai Kepemimpinan melalui Wayang Kulit Gontor
Melalui lakon "Parikesit Dadi Ratu", penonton diajak untuk memahami berbagai nilai kepemimpinan dan kebijaksanaan. Kisah ini juga menyoroti pentingnya keteladanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai ini sangat krusial bagi pembentukan karakter santri sebagai calon pemimpin masa depan.
Pertunjukan Wayang Kulit Gontor ini juga mengajarkan pentingnya menghadapi tantangan masa depan dengan berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan keagamaan. Hal ini sejalan dengan visi Gontor dalam mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual. Wayang kulit menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas dalam pendidikan.
Pagelaran ini merupakan salah satu rangkaian penting dalam peringatan satu abad Gontor. Tujuannya adalah memperkuat hubungan erat antara pesantren dan masyarakat sekitarnya. Upaya ini juga sekaligus melestarikan seni budaya tradisional sebagai media dakwah yang sangat edukatif. Dengan demikian, Wayang Kulit Gontor terus relevan di era modern.
Sumber: AntaraNews