Venthy, pendobrak daya juang wanita Kupang
Berawal dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di dusun tersebut, Venthy memulai gerakan Rumah Perempuan.
"Kita bisa berubah kita bisa berusaha!" Suara tersebut memaku perhatian kumpulan wanita Desa Penfui Timur, Kecamatan Kupang Tengah, Kupang, NTT pada Selasa (10/2). Suara itu keluar dari mulut Bernadin Apriliani Venthy Sabaat.
Dia adalah seorang ibu dengan empat anak yang hanya lulusan SMA, namun kehadirannya dapat membuat perubahan dan kesejahteraan kaum ibu di sana.
Berawal dari kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di dusun tersebut, Venthy memulai gerakan Rumah Perempuan.
"Di tahun 2006 ada suami selingkuh dengan istri yang baru melahirkan. Saat tidur istrinya memukul suaminya dengan kusen abis koma dan meninggal. Dia juga bakar motor kartu BLT sampai masuk penjara. Awalnya kita kumpul-kumpul bantu dia," cerita Venthy.
Tak disangka itu adalah awal terbentuk gerakan Rumah Perempuan. Ketua RT 22 RW 7 ini pun makin intensif menggelar pertemuan antarperempuan.
Venthy pun rajin ikut pelatihan mengenai perempuan. Hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa masalah KDRT yang terjadi di dusun Penfui Timur tak lain karena masalah ekonomi.
"Ada kasus suami pergi meninggalkan 8 orang anak, istri hamil kami beri dia pengalaman kami minta dia meningkatkan pendapatan pendapatan kami belikan dia terigu, mentega dus dan akhirnya jualan kue," ungkap dia.
Dari situ muncul gerakan lebih umum yang disebut Rindu Sejahtera. Di dalam organisasi ini Venthy berusaha sebisa mungkin mendapatkan modal untuk memberi umpan pendapatan kepada warga sekitar.
"Anggota kami bina mandiri dengan perlahan timbul kegiatan tenun, tanam kokal, tani, las listrik, tambal ban dan kios. Tapi memang perubahan sikap perempuan sudah ada modal belum ada lagi," ucapnya sambil tertawa.
Memang Venthy bukan orang yang berpendidikan tinggi apalagi orang berduit. Rumahnya saja belum dipelur dan masih beralaskan tanah. Namun Venthy selalu semangat agar penduduk di dusunnya maju.
Rumah Perempuan adalah salah satu dari sekian banyak gerakan yang didukung oleh Tifa Foundation hasil kerjasama BNP2TKI, Kementerian luar negeri Australia dan Australia Aid. Tifa Foundation memberikan bantuan dana, konsultasi sampai pelatihan peranan wanita di Kupang.
Baca juga:
Kisah Sara, penganyam bambu yang bermimpi jadi pengusaha
Berkat kerja keras, petugas SPBU bisa punya harta Rp 101 M
Video balita tanpa kaki asyik breakdance bikin haru dunia
Suatmawati berhati mulia, sejak SMP mengabdi di panti sosial
Cerita perjuangan hidup pedagang jamu renta bersama tiga anaknya
Kisah sekolah anak jalanan bertembok peti kemas di Depok
Tak mau jadi pengangguran, nenek 72 tahun tetap gigih bekerja