Zubaedah (72) sudah lebih dari 6 tahun jualan kue martabak telor. Meski sudah lanjut usia, tapi semangat hidupnya tetap tinggi. Dia tidak mau menghabiskan masa tuanya menjadi pengangguran. Apalagi minta-minta.Generasi muda harus belajar tentang semangat hidup dari nenek Zubaedah. Di usianya sudah sepuh, Zubaedah harusnya istirahat dan hidup dengan tenang. Apalagi anak-anaknya juga sudah banyak memiliki penghasilan. Tapi Zubaedah berpikir beda. Dia tidak mau menggantungkan hidup pada orang lain. "Kulo esih rekoso (saya masih kuat). Tidak mau menganggur saja. Lumayan kalau dodolan (jualan) begini. Bisa ngasih jajan cucu, bisa buat benerin rumah, sama bayar utang," kata Zubaedah saat berbincang dengan merdeka.com, Kamis (5/2). Zubaedah datang dari kampung halamannya Brebes ke Jakarta pada tahun 2008, setahun setelah suaminya meninggal dunia. Lapaknya dia buka di pinggir gang dekat kampus UIN Jakarta. Zubaedah menjadi satu-satunya pedagang kue martabak telor di situ. Modal usahanya dia dapatkan dari pinjaman 'bank harian'. Meski sudah terkenal di kalangan mahasiswa, tapi nenek ini tidak berniat untuk memperbesar tempat jualannya. Orang-orang menyebut martabak telor buatan Zubaeah dengan nama “Kue Nenek”. "Kalau sore banyak mahasiswa ngantre beli kue. Kalau lagi sepi paling cuma dapat Rp 200 ribu. Kalau ramai bisa sampai Rp 300 ribu. Buat bayar utang Rp 150 ribu, sisanya buat bayar kios dan modal,” tambahnya. Pahit dan manisnya kehidupan dialami Zubaedah dihadapi dengan tabah dan pantang menyerah. Kemiskinan, utang yang banyak, hingga pernah ditipu orang memberinya pelajaran bahwa hidup memang ujian. Dari 12 orang anak yang dia lahirkan, hanya ada 8 orang yang hidup. Anak-anaknya banyak meninggal karena sakit. Zubaedah tidak punya cukup uang untuk membawa anak-anaknya berobat.Kini, dari anak-anaknya masih hidup, Zubaedah telah memiliki 22 orang cucu. Anak-anaknya banyak jadi pedagang. Ada yang jualan pecel lele dan ada juga jualan nasi goreng. Satu orang anak perempuannya sudah 7 tahun jadi TKW di Malaysia. Meski hampir semua anaknya sudah berpenghasilan tapi si nenek tidak mau meminta uang sepeser pun dari mereka. Bahkan sebaliknya, sering Zubaedah justru memberikan uang untuk anak dan cucu-cucunya. "Ada yang minta uang buat modal, ada juga yang minta buat bayar utang, kemarin cucu minta buat beli motor," tutur Zubaedah sambil menggoreng martabak telor pesanan seorang mahasiswi.
Tak mau jadi pengangguran, nenek 72 tahun tetap gigih bekerja
Nenek Zubaedah masih sering memberikan uang pada anak-anaknya. Bahkan membelikan motor buat cucu.
Rekomendasi