Tragis, Ibu di Bandung Diduga Bunuh Diri Bersama Dua Anaknya: Biar Mamah Saja yang Menanggung Dosanya
Peristiwa tragis ini diduga merupakan aksi bunuh diri yang dilakukan oleh sang ibu terhadap dirinya dan kedua anaknya.
Warga Kampung Cae, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, digegerkan oleh penemuan tiga jenazah di rumah kontrakan pada Jumat (5/9) dini hari. Ketiganya adalah seorang perempuan berinisial EN (34) dan dua anaknya, AA (9) dan AAP (11 bulan), yang ditemukan tewas dengan kondisi leher terjerat tali.
Peristiwa tragis ini diduga merupakan aksi bunuh diri yang dilakukan oleh sang ibu terhadap dirinya dan kedua anaknya.
Ditemukan Tewas di Dalam Rumah Terkunci
Kasat Reskrim Kompol Luthfi Olot Gigantara membenarkan kejadian tersebut. Ia menyampaikan bahwa ketiga korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa, dan tidak terdapat tanda-tanda kekerasan dari pihak luar.
"Pintu rumah terkunci dari dalam saat warga mencoba masuk. Grendel pintu didobrak oleh warga yang curiga karena korban tidak keluar rumah sejak malam sebelumnya," ujar Kompol Luthfi kepada wartawan, Jumat (5/9).
Hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan bahwa tidak ada luka terbuka atau bekas kekerasan pada tubuh ketiga korban. Polisi masih melakukan pendalaman untuk memastikan motif dan kronologi kejadian.
Warga Terkejut dan Tidak Menyangka
Kematian EN dan dua anaknya mengejutkan warga sekitar. Salah satu tetangga korban, Yogi Ramdani (23), mengaku tidak percaya bahwa EN akan melakukan tindakan seekstrem itu.
"Sehari-hari beliau kelihatan seperti ibu rumah tangga biasa. Ramah, sering menyapa tetangga. Saya syok, enggak menyangka akan berakhir seperti ini," kata Yogi.
Yogi menuturkan, sehari-hari EN tampak seperti ibu pada umumnya, sibuk mengurus anak, termasuk bayi berusia 11 bulan. Tak terdengar ada cekcok dengan suami, ataupun masalah yang mencolok di lingkungan tempat tinggalnya.
Namun, semua berubah saat Jumat dini hari. Suami korban, YS, yang pulang kerja sekitar pukul 04.00 WIB, dibuat panik karena tak ada respons saat mengetuk pintu rumah kontrakannya.
“Waktu ditanyain kenapa, enggak ada keluar-keluar gitu istrinya,” kata Yogi.
YS kemudian meminjam bangku milik tetangga untuk mengintip ke dalam rumah melalui ventilasi. Dari situ, ia melihat kaki anaknya tergeletak di lantai, tak bergerak. Suasana pun berubah mencekam.
“Pas dilihat ada kaki anaknya, yang dipanggil-panggil enggak ada yang nyaut Itu,” ujarnya.
Warga yang turut menyaksikan kepanikan YS lalu meminta izin untuk mendobrak pintu. Begitu berhasil masuk, pemandangan pilu pun terlihat EN dan kedua anaknya, AA (9) dan AAP (11 bulan), ditemukan dalam keadaan sudah tidak bernyawa, dengan kondisi leher terjerat tali.
“Histeris pasti. Iya, histeris. Dia langsung syok berat pas ini,” tutur Yogi.
Setelah kejadian itu, warga segera melapor kepada pihak berwenang, mulai dari ketua RT, RW, Babinsa, hingga polisi. Petugas tiba di lokasi sekitar pukul 08.00 WIB untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tinggalkan Surat yang Diduga Ditulis Korban
Di lokasi kejadian, polisi menemukan secarik surat yang diduga ditulis oleh EN sebelum mengakhiri hidupnya. Dalam surat tersebut, EN mengungkapkan keputusasaannya karena himpitan ekonomi, tekanan batin, dan masalah rumah tangga.
“Saya sudah lelah lahir batin, saya tidak kuat menjalani hidup seperti ini… biar mamah saja yang menanggung dosanya,” tulis EN dalam surat yang kini dijadikan barang bukti oleh polisi.
Surat itu juga memuat permintaan maaf kepada orang tua, kakak-kakak, dan dua anaknya. Ia menyatakan tindakannya dilakukan karena tidak ingin anak-anaknya hidup dalam kesengsaraan.
Polisi Periksa Lima Saksi
Hingga kini, Polresta Bandung telah memeriksa lima orang saksi, termasuk suami korban, anggota keluarga, dan tetangga sekitar. Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap kemungkinan adanya faktor pemicu dari lingkungan sekitar maupun tekanan dalam rumah tangga.
"Kami sudah melakukan pemeriksaan terhadap suami korban, ayah korban, serta beberapa tetangga dan kerabat terdekat, untuk mengetahui lebih lanjut motifnya," ujar Luthfi.