Tinggalkan Keluarga Demi Suaka
Ali, pria 25 tahun harus menempuh perjalanan sejauh 6.000 kilometer menggunakan jalur laut demi mencari suaka di Indonesia. Dia mengambil langkah itu setelah rumahnya di Afghanistan tak lagi dapat ditinggali.
Ali, pria 25 tahun harus menempuh perjalanan sejauh 6.000 kilometer menggunakan jalur laut demi mencari suaka di Indonesia. Dia mengambil langkah itu setelah rumahnya di Afghanistan tak lagi dapat ditinggali. Seluruh keluarganya mencari perlindungan di negara lain. Sayang, kondisi tidak memungkinkannya untuk tinggal bersama.
"Keluarga saya tinggal di Iran," ujar Ali saat ditemui merdeka.com, Rabu (4/9).
Pencari suaka yang kini tinggal di penampungan sementara, eks Kodim Kalideres itu pertama kali datang ke Indonesia enam tahun lalu. Bersama sejumlah rekan, dia berharap bisa menemukan penghidupan lebih baik.
"Ada anak kecil, satu keluarga, perempuan, atau sendiri seperti saya," kenang Ali menceritakan kondisi kapal yang ditumpanginya untuk menyeberang benua.
Berbeda dengan Ali, seorang pencari suaka berinisial B justru keluar dari Afghanistan secara legal. Dengan perintah kedua orang tuanya, B ke Malaysia dengan menggunakan pesawat terbang.
Perjalanan ke Indonesia dilanjutkan Ali menggunakan kapal, bersama rombongan pencari suaka lainnya. Namun tanpa disangka, ketika berada di tengah perjalanan seseorang memerintahkan rombongan untuk menghilangkan paspor.
"Ada yang dibakar, ada yang dibuang ke laut," kata B.
Menurutnya, saat itu dia baru mengetahui bahwa dirinya mungkin akan menemui masalah di Indonesia dengan paspor Afghanistan. Sudah kepalang tanggung, B tetap meneruskan perjuangannya mencari suaka di Indonesia.
Pria yang sempat mengenyam pendidikan sebagai teknisi itu berkisah, orangtuanya berharap dia bisa mendapat pekerjaan dan tempat tinggal untuk bisa menolong keluarganya keluar dari Afghanistan. Namun, enam tahun sudah anak pertama dari tiga bersaudara itu berada di Indonesia tanpa kepastian.
"Orangtua sendiri bilang sama aku, kamu pergi dari Afghanistan. Mereka bilang, nanti kalau kamu punya kerja punya uang, baru kamu bawa kami pergi dari Afghanistan," tutur B dalam bahasa Indonesia.
Dia mengaku komunikasi dengan keluarga terbatas. "Di kampung saya tidak ada signal. Mereka (keluarganya) harus jalan satu jam baru bisa ada signal," kata B.
B mengatakan, sulitnya komunikasi dengan keluarga membuatnya khawatir setiap kali mendengar kabar soal perang di tanah kelahirannya. "Hanya takut jika terjadi apa-apa di Afghanistan, aku takut, kepikiran bisa apa untuk keluarga aku."
Meski belum juga mendapat kepastian di mana dia bisa mendapat tempat tinggal tetap, B enggan menceritakan kehidupannya di Indonesia kepada keluarga. Dia hanya bisa menolak, ketika kedua adiknya yang berumur 12 dan 16 tahun ingin menyusulnya.
"Aku cuma bisa bilang sorry," ungkapnya lirih.
Jika B kesulitan menghubungi keluarganya karena kondisi Afghanistan yang tidak memungkinkan, Ali justru tidak bisa menghubungi keluarga karena tidak ada uang.
"Saya sangat jarang (menghubungi keluarga), karena saya harus beli pulsa untuk internet," kata Ali terbata-bata.
Ditemui di sebuah warung kopi, belakang gedung eks Kodim, Ali mengaku kehidupan keluarganya di Iran tidak begitu baik. Sesekali mereka saling bertukar kabar lewat media sosial.
Meski demikian, kondisi keluarga Ali terbilang sedikit beruntung dari B. Di Iran, keluarga Ali masih bisa memiliki pendapatan dan melakukan sejumlah kegiatan di Iran, walau terbatas.
"Di Iran, mereka masih bisa bekerja dan melakukan hal lain. Namun, di sini kami tidak bisa melakukan apa-apa," ungkap Ali.
Keinginan Ali dan B untuk bisa mendapatkan pekerjaan di Indonesia nampak jauh dari harapan. Pun demikian dengan impian memboyong keluarga keluar dari negaranya.
Esok hari, pemerintah akan menutup penampungan di eks Kodim Kalideres. Tidak ada lagi pilihan tempat tinggal bagi mereka. Pihak UNHCR menawarkan uang sebesar Rp 1 juta untuk biaya hidup setelah keluar dari penampungan tersebut. Namun, tak banyak pengungsi yang setuju. Hingga saat ini, ratusan pengungsi masih bermalam dalam gedung eks Kodim Kalideres, berharap solusi bagi nasib mereka.
Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita
Baca juga:
36 Pencari Suaka Bermasalah Ditempatkan di Rudenim Makassar
Tekanan Batin Pencari Suaka
DPR Desak UNHCR Pastikan Nasib Pencari Suaka di Indonesia
Makanan, Sumber Kehidupan Sekaligus Pertikaian Pencari Suaka di Pengungsian
Menunggu Malam di Pelataran Pengungsian Pencari Suaka