Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Makanan, Sumber Kehidupan Sekaligus Pertikaian Pencari Suaka di Pengungsian

Makanan, Sumber Kehidupan Sekaligus Pertikaian Pencari Suaka di Pengungsian Pencari Suaka di Kalideres. ©2019 Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Tak kurang dari 429 boks makanan bertumpuk di gerbang gedung eks Kodim Kalideres, Jakarta Barat, Rabu (4/9). Logistik bagi para pencari suaka yang bermukim di sana. Pengirimnya, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR). Namun, bantuan makanan dari komite tertinggi PBB itu ditolak para pengungsi.

Salah seorang pengungsi berkenan berbagi cerita pada kami. Namun dia meminta identitasnya tak diungkap. Pria itu berinisial B. Asalnya dari Afghanistan. Makanan adalah sumber kehidupan. Tapi di sana, makanan bisa menjadi sumber pertikaian.

"Itu makanan tidak cukup buat berapa ratus orang, makanan itu hanya 429 boks. Tidak cukup," ucap pria berinisial B saat ditemui di luar gedung penampungan, Rabu (4/9).

Terbatasnya jumlah makanan dapat memantik konflik antar pengungsi beda negara. Padahal, kata pria 28 tahun itu, mereka selalu mencoba menjaga solidaritas sebagai sesama pejuang suaka.

Masih terekam jelas dalam ingatan pria itu. Selama 55 hari tinggal di penampungan Kalideres, setidaknya telah terjadi lima kali keributan. Seluruh kejadian tersebut dipicu masalah yang sama, makanan.

Pertengahan Agustus lalu, kericuhan sempat terjadi ketika bantuan makanan datang. Sekelompok pengungsi ditegur karena mengambil bagian lebih.

"Saya enggak mau bilang dari negara mana, itu tidak baik," ungkap B.

Merasa tak terima, dua kubu berbeda negara itu pun terlibat adu mulut. Situasi kemudian semakin memburuk. Kedua belah pihak terlibat bentrok. Akibatnya, belasan orang terluka dan dilarikan ke rumah sakit.

"Waktu itu saya baru pulang mandi di terminal. Tiba-tiba ibu (penjual di depan gedung penampungan) mencegat saya. Ternyata sedang ribut semua orang di dalam," kisah B mengenang kronologi kejadian.

Tak cuma makanan. Keributan juga dipicu pembagian pakaian. Menurut B, selain UNHCR, pengungsi kerap menerima bantuan dari organisasi lain di Indonesia. Bantuan dari masyarakat berupa pakaian, susu, dan bahan makanan itu akhirnya memicu masalah. Karena jumlahnya yang tidak sepadan.

Rentetan kejadian ricuh itu pula yang menjadi alasan pengungsi menolak makanan yang diberikan UNHCR hari ini. Hingga sore hari, pengungsi enggan mengambil jatah makanan yang ada. Akhirnya, petugas menarik kembali tumpukan makanan tersebut.

"Bukan cuma makan. Kamu tahu, mereka (UNHCR) hanya beri kami air satu gelas," katanya.

Setiap boks makanan yang dibagikan berisi lauk, nasi dan segelas air mineral. UNHCR mengirim paket makanan itu dua kali dalam satu hari. Namun, di luar itu tidak ada pasokan air minum maupun air bersih untuk mereka.

Berdasarkan pantauan kami, beberapa pemuda sesekali keluar untuk membeli botol air mineral di seberang gedung penampungan. B sendiri kerap mendapat minum dan makan gratis dari warga sekitar.

"Suka ke sini, kasihan sama kami. Suka belikan minum, makan," kata B setelah menerima segelas minuman dari warga setempat.

Ali pencari suaka yang juga berasal dari Afghanistan mengungkapkan hal senada. Mereka kerap menerima bantuan air dari warga sekitar atau organisasi masyarakat.

Reporter Magang: Anindya Wahyu Paramita

(mdk/noe)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP