Target Ambisius 2025: Tahukah Anda, Rehabilitasi Mangrove Pulihkan Bekas Tambang?
Pemerintah menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 15.387 hektare pada 2025. Program ini tak hanya hijaukan pesisir, tapi juga buktikan kolaborasi masyarakat kunci sukses pemulihan lingkungan dan rehabilitasi mangrove.
Kementerian Kehutanan (Menhut) mengumumkan target ambisius untuk rehabilitasi mangrove di Indonesia. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan pemerintah menargetkan rehabilitasi lahan mangrove seluas 15.387 hektare pada tahun 2025. Upaya ini merupakan bagian integral dari komitmen nasional untuk mengatasi degradasi ekosistem pesisir.
Program strategis ini akan difokuskan di empat provinsi prioritas, yaitu Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Rehabilitasi ini tidak hanya bertujuan untuk mengembalikan fungsi ekologis mangrove, tetapi juga untuk memulihkan area yang sebelumnya rusak, termasuk bekas areal tambang kuarsa yang masif.
Inisiatif ini menekankan pendekatan berbasis komunitas dan keberlanjutan lingkungan, membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci keberhasilan. Menhut Raja Juli Antoni mengapresiasi masyarakat yang telah berkontribusi dalam memulihkan kawasan mangrove, menunjukkan pentingnya sinergi dalam menjaga kelestarian alam Indonesia.
Program Ambisius Mangroves for Coastal Resilience (M4CR)
Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) adalah inisiatif strategis nasional yang dirancang untuk mengatasi degradasi ekosistem mangrove di Indonesia. Menhut Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa program ini bertujuan melakukan rehabilitasi skala besar dengan fokus pada pendekatan berbasis komunitas dan keberlanjutan lingkungan. M4CR akan merehabilitasi total 41.000 hektare mangrove hingga tahun 2027.
Rehabilitasi mangrove melalui M4CR akan dilaksanakan di empat provinsi prioritas yang memiliki potensi besar untuk pemulihan ekosistem pesisir. Provinsi-provinsi tersebut adalah Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingkat degradasi dan potensi dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Menhut Raja Juli mengungkapkan kekagumannya terhadap keberhasilan rehabilitasi di beberapa lokasi, khususnya di bekas areal tambang kuarsa. "Saya mengapresiasi upaya rehabilitasi mangrove yang dilakukan oleh masyarakat, di mana kawasan ini dulu merupakan bekas areal-areal tambang kuarsa yang masif hingga menyebabkan abrasi, namun sekarang tutupan vegetasi mangrove sudah semakin pulih," ujarnya dalam Kick off Mangroves for Coastal Resilience di Medan.
Sumatera Utara Jadi Pilot Project: Kunci Sukses Kolaborasi
Sumatera Utara menjadi salah satu provinsi yang mendapatkan perhatian khusus dalam program M4CR. Pelaksanaan rehabilitasi mangrove di wilayah ini telah dimulai sejak tahun 2024 dengan luasan awal 636 hektare. Area ini tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Langkat, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai, menunjukkan komitmen terhadap rehabilitasi mangrove di tingkat lokal.
Untuk tahun ini, target rehabilitasi mangrove M4CR di Sumatera Utara ditingkatkan menjadi 1.924 hektare, menandakan percepatan upaya pemulihan. Diperkirakan hingga tahun 2026, kegiatan rehabilitasi di provinsi ini dapat mencapai total 3.332 hektare. Angka ini mencerminkan skala besar dari upaya pemulihan ekosistem yang sedang berlangsung.
Raja Antoni juga menyoroti pentingnya kolaborasi dan kerja sama dalam menjaga kelestarian hutan. Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bergantung pada sinergi antar kementerian dan lembaga, baik pusat maupun daerah, tetapi juga pada peran strategis masyarakat. Menhut dan Wamenhut Sulaiman Umar bahkan berdiskusi langsung dengan kelompok masyarakat, melakukan panen kepiting, serta meninjau persemaian bibit dan penanaman mangrove, menggarisbawahi pentingnya keterlibatan komunitas.
Sumber: AntaraNews