Tahukah Anda? Palembang Gencarkan Program Bapak Asuh Stunting Demi Wujudkan Zero Kasus
Pemerintah Kota Palembang serius tangani stunting dengan perbanyak program bapak asuh, melibatkan OPD dan CSR. Akankah Palembang capai zero stunting?
Pemerintah Kota Palembang, Sumatera Selatan, secara proaktif memperbanyak program bapak asuh sebagai strategi utama dalam menangani kasus kekerdilan atau gangguan tumbuh kembang pada anak. Upaya ini bertujuan untuk mengatasi masalah stunting yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis di wilayah tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk mewujudkan Palembang bebas stunting di masa depan.
Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, menegaskan pentingnya dukungan masyarakat luas dalam program ini, terutama sebagai bapak asuh bagi anak-anak dari keluarga miskin yang berpotensi stunting. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan elemen masyarakat adalah kunci untuk mencapai target nol kasus stunting. Program ini diharapkan dapat memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak di Palembang.
Hingga Oktober 2025, Pemkot Palembang menargetkan penurunan signifikan kasus stunting, dengan melibatkan semua organisasi perangkat daerah (OPD) dan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Selain itu, Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) juga diturunkan secara intensif ke permukiman penduduk. Langkah-langkah ini diambil untuk memastikan penanganan stunting berjalan komprehensif dan merata di seluruh kota.
Peran Bapak Asuh dan Target Zero Stunting
Program bapak asuh menjadi tulang punggung upaya Pemerintah Kota Palembang dalam menekan angka stunting. Melalui program ini, individu atau lembaga diharapkan dapat memberikan dukungan gizi dan kesehatan kepada anak-anak yang berisiko mengalami stunting. Keterlibatan aktif dari berbagai pihak diharapkan mampu mempercepat pencapaian target Palembang bebas stunting.
Wakil Wali Kota Palembang, Prima Salam, menekankan bahwa, "Untuk menangani kasus gangguan tumbuh kembang pada anak dan mewujudkan zero stunting di kota ini, perlu dukungan masyarakat sebagai bapak asuh anak dari keluarga miskin yang berpotensi stunting." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya sinergi antara pemerintah dan masyarakat. Dukungan ini mencakup penyediaan asupan gizi yang memadai dan pemantauan tumbuh kembang anak secara berkala.
Data terbaru menunjukkan adanya penurunan kasus stunting di Kota Palembang, dari 170 orang pada tahun sebelumnya menjadi 160 kasus saat ini. Penurunan ini menjadi indikator positif bahwa program yang dijalankan mulai menunjukkan hasil. Namun, Pemkot Palembang berkomitmen untuk terus mengupayakan penurunan lebih lanjut hingga mencapai nol kasus stunting.
Strategi Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS)
Selain memperbanyak bapak asuh, Pemerintah Kota Palembang juga mengandalkan peran Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). Tim ini bertugas untuk melakukan intervensi langsung di lapangan, terutama di kawasan permukiman padat penduduk. TPPS didorong untuk lebih gencar lagi turun ke berbagai pelosok kelurahan dalam kota Palembang.
Petugas yang tergabung dalam TPPS memiliki peran krusial dalam menjalin komunikasi yang baik dengan warga. Komunikasi yang efektif ini memungkinkan petugas untuk melacak kasus stunting secara lebih akurat dan memberikan edukasi yang tepat kepada keluarga. Pendekatan personal ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi dan kesehatan anak.
Jalinan komunikasi yang baik antara petugas TPPS dengan masyarakat sangat penting untuk membantu melacak kasus stunting. Ini mencakup wilayah 107 kelurahan di 18 kecamatan dalam Kota Palembang. Dengan demikian, setiap kasus stunting dapat teridentifikasi dan tertangani dengan cepat, memastikan tidak ada anak yang luput dari perhatian program penanganan stunting.
Sumber: AntaraNews