Sengketa tanah diduga motif pembantaian keluarga Tasir
Namun polisi belum bisa menarik kesimpulan.
Motif pembantaian Tasir (65) beserta keluarganya perlahan mulai terkuak. Diduga, mereka dibunuh lantaran terkait jual beli tanah dilakukan Tasir.
Informasi dihimpun, sebelum peristiwa berdarah itu terjadi, mendiang Tasir membeli dua kavling tanah kepada seseorang. Setelah uang dibayar, ternyata salah satu kavling tanah itu bermasalah, sehingga terjadi sengketa antara korban dan penjual tanah.
Merasa ditipu, Tasir bermaksud membatalkan jual beli tanah itu. Namun, pemilik tanah enggan mengembalikan uang sudah diberikan.
Menanggapi kabar beredar itu, Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol R Djarod Padakova, menyebut seluruh informasi maupun keterangan saksi dikumpulkan penyidik. Namun, dia belum bisa menyimpulkan motifnya secara pasti.
"Itu (motif jual beli tanah) bisa saja. Yang pasti kita kumpulkan keterangan dari saksi di lapangan, kita masih selidiki," kata Djarod, Kamis (19/5).
Djarod sempat mengatakan, dari keterangan warga, mendiang Tasir beberapa hari sebelum ditemukan tewas baru saja menjual tanah di tempat kelahirannya di Pulau Jawa, seharga Rp 600 juta. Hal itulah membuat pelaku beraksi untuk memiliki uang itu.
Namun, informasi beredar, uang itu dititipkan di salah satu keluarganya sehingga pelaku tak berhasil mendapatkannya.
"Dugaan sementara para korban tewas dirampok," kata Djarod.
Baca juga:
Dalam 4 hari, ditemukan 5 mayat mengapung di anak Sungai Musi
5 Mayat mengapung di anak Sungai Musi merupakan satu keluarga
Mayat satu keluarga mengapung di anak Sungai Musi korban perampokan
Nyawa Tasir dan keluarga berakhir di tangan perampok
Selidiki kasus pembantaian Tasir, polisi menginap di rumah korban
Tak ada saksi mata, penyidik kesulitan usut pembantai keluarga Tasir