Selidiki kasus pembantaian Tasir, polisi menginap di rumah korban
Merdeka.com - Jarak tempuh yang jauh dan sulit, membuat penyidik sejak beberapa hari terakhir terpaksa menginap di rumah korban Tasir (65), yang dibantai bersama empat anak istrinya. Penyidik baru dipulangkan jika temuan awal dalam penyelidikan terungkap.
Kabid Humas Polda Sumsel, Kombes Pol R Djarod Padakova mengatakan, untuk mengungkap kasus tersebut pihaknya menurunkan 25 penyidik dari Polres Banyuasin dan Polda Sumsel ke lokasi. Mereka disiagakan 24 jam untuk mencari barang bukti dan penyelidikan lebih lanjut.
"Jaraknya jauh, harus lewat sungai tiga jam, belum lagi jalur darat dua jam, tidak ada penerangan. Jadi, 25 penyidik kita inapkan di TKP, 24 jam full di sana," ungkap Djarod, Kamis (19/5).
Selain penyidik, kata Djarod, sejumlah pejabat Polda Sumsel dan Polres Banyuasin, seperti Direktur Ditreskrimum dan Kasubdit Jatanras, harus bolak-balik ke lokasi untuk mencari perkembangan terbaru, termasuk melakukan olah TKP berulang-ulang.
"Ya, harus begitu, dua hari ini, berturut-turut berangkat ke sana. Ini karena kasusnya termasuk besar dan jauh," ujarnya.
Djarod menambahkan, sejauh ini kondisi di lapangan cukup kondusif. Tidak ditemukan gejolak dari masyarakat maupun keluarga korban.
"Kondusif dan terkendali. Penyelidikan tetap lancar, pencarian barang bukti di lapangan juga terus dilakukan," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, warga Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin, Sumatera Selatan, dalam empat hari terakhir dihebohkan dengan penemuan lima mayat yang mengapung di anak Sungai Musi. Setelah diselidiki, para korban merupakan satu keluarga.
Mereka adalah Tasir bin Sarat (65), Topiah (60), Kartini binti Tasir (37), Winarti binti Tasir (14), dan Ariyam binti Tasir (6). Semuanya tinggal di Jalur 16, Desa Indrapura, Kecamatan Muara Sugihan, Banyuasin.
(mdk/cob)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya