Sejak 1982, warung esek-esek merebak di Gunung Kemukus
Awalnya pada 1979 silam lembah Kemukus masih hutan belantara.
Obyek wisata religi di lembah Gunung Kemukus, mendadak menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat tatkala Patrick Abboud, pewarta asal Australia menyambangi tempat itu. Menariknya, dia mendokumentasikan berbagai aktivitas menyimpang yang dilakukan peziarah dengan ritual saat Malam 1 Suro atau hari-hari sakral lainnya.
Merdeka.com pun mencoba menelusuri satu per satu areal-areal prostitusi terselubung di lembah 'esek-esek' tersebut. Ritual seks bebas yang kerap dilakukan pengunjung di lembah Kemukus, ternyata sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Seorang juru kunci makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus, Dwi Margono mengatakan, semula lembah yang telah ditinggalinya sejak kecil itu tak seramai sekarang. Pria yang akrab disapa Gus Dwi tersebut menerangkan, awalnya pada 1979 silam lembah Kemukus masih hutan belantara.
"Kemudian saya disuruh mendiami tempat ini sambil menjaga kuburannya Pangeran Samudro sejak kecil. Jadi semuanya masih serba alami," kata kuncen asli Kemukus tersebut, saat berbincang dengan merdeka.com di Sragen Jawa Tengah, Minggu (23/11).
Lambat laun, kata Gus Dwi, segelintir orang lalu datang berziarah ke makam Pangeran Samudro. Setelah itu, satu per satu peziarah terus berdatangan ke situ untuk menyembah kuburan sang pangeran karena dipercaya mendatangkan rezeki berlimpah.
"Karena aktivitas peziarah mulai ramai lalu Gunung Kemukus dikelola Dinas Pariwisata mulai 1982 silam dan hingga sekarang jumlah peziarah terus bertambah," terang bapak dua anak tersebut.
Gus Dwi lantas mengungkapkan, hingga saat ini Gunung Kemukus selalu dibanjiri pengunjung setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon maupun hari Kamis Wage malam Jumat Kliwon. Bahkan, bila pada hari biasa tempat keramat tersebut tetap menjadi jujukan orang-orang dari luar daerah.
"Kepercayaan tamu datang ke sini selain berdoa dan ziarah ke makam Pangeran Samudro, juga untuk minta macam-macam. Ada yang berdoa minta panjang umur, kesehatan, minta jodoh sampai usahanya dilancarkan," kata Gus Dwi.
Saking ramainya peziarah, rumah-rumah penduduk pun bermunculan. Hal ini seiring dengan pembangunan Waduk Kedung Ombo dan ada aliran listrik ke rumah-rumah warga. Gus Dwi menerangkan, mayoritas pemilik rumah di Kemukus adalah kaum pendatang.
Saat ini, warga tertarik membuka bisnis sambilan salah satunya warung yang memiliki bilik kamar bagi pengunjung yang ingin melakukan ritual seks usai berziarah.
"Hanya satu dua yang asli dari sini dan mayoritas kaum pendatang. Ya begitulah, kalau ada tempat-tempat kepercayaan seperti ini," jelas Gus Dwi.
Baca juga:
Doanya terkabul, peziarah Gunung Kemukus datang sembelih kambing
Menelusuri lokasi ritual seks bagi peziarah di Gunung Kemukus
Seks bebas di Kemukus berawal dari riwayat keturunan Majapahit?
Ini empat lokasi ritual seks paling menggemparkan dunia
Diungkap wartawan Australia, 'gunung seks' Jateng mendunia