LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Salut, di tangan lulusan ITB ini masalah sampah di Jateng beres

Lulusan Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) itu membuat alat pengolah sampah yang dioperasionalkan di Tempat Pengolah Sampah Terpadu (TPST) yang ada di Gandasuli, Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes. Anim mengatakan, setiap hari alat buatannya mampu mengolah sampah dari dua hingga tiga dump truck.

2017-12-21 05:04:00
Kisah Inspiratif
Advertisement

Sampah selalu saja menjadi persoalan, terutama di perkotaan. Produksi sampah yang berlebih namun tak diimbangi dengan pengelolaan yang komprehensif.

Namun sepertinya, sampah tak akan lagi menjadi masalah dengan adanya alat pengolahan yang dibuat Anim Kartono.

Lulusan Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) itu membuat alat pengolah sampah yang dioperasionalkan di Tempat Pengolah Sampah Terpadu (TPST) yang ada di Gandasuli, Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes. Anim mengatakan, setiap hari alat buatannya mampu mengolah sampah dari dua hingga tiga dump truck.

Advertisement

"Yang dua diolah, sementara satunya buat sisa," ujarnya saat menerima kunjungan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Rabu (20/12).

Alat yang ditempatkan di lokasi transfer depo tersebut mulai beroperasi sejak 2014. Anim mengatakan, alatnya mengolah segala jenis sampah.

"Jadi semua sampah diolah, tidak ada yang tersisa. Semua dimanfaatkan," paparnya.

Advertisement

Hasil dari pengolahan sampah tersebut adalah 8 ton kompos, BBM biosolar 200 liter, dan gas metan setara tiga tabung gas melon, atau 9 kilo.

Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mengatakan dengan adanya instalasi karya Anim tersebut maka bisa dikatakan persoalan sampah sudah selesai.

"Alat ini bisa menjadi solusi pengelolaan sampah. Apalagi untuk membuatnya hanya dibutuhkan Rp 400 juta. Ini sangat terjangkau dan bisa diterapkan di semua daerah karena lahannya juga tidak terlalu besar," ucapnya.

Ganjar mengungkapkan, hasil pengolahan sampah tersebut dimanfaatkan untuk menggerakkan instalasi.

"Ini sudah mandiri. Tapi ya mungkin tetap perlu sentuhan, terutama dari segi safety karena pergerakannya kan masih terbuka dan kapasitas harus ditambah," paparnya.

Baca juga:
Mengenal lebih dekat Natasha Vinski, dokter dan pebisnis muda sukses
Mackenzie Walker, Penyanyi Gospel Amerika Yang Pernah Dibuang Saat Bayi
Warga Portsmouth ubah bus tingkat jadi shelter berjalan untuk tunawisma
Kisah nenek Eri di Purwakarta, hidup pas-pasan rutin berikan beras buat warga
Kisah haru Mohamed Bzeek yang rawat 40 anak sekarat di AS
Kisah sukses pedagang bakso jadi pejuang ekonomi mikro
Penari satu kaki Arif Setyo Budi tak pernah menyesali kondisi fisiknya

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.