Ribuan Lebah Penuhi Langit Tel Aviv, Picu Kekhawatiran Pertanda Buruk Seperti di Alkitab
Puluhan ribu lebah memenuhi langit di Israel, memicu kekhawatiran akan pertanda Alkitab yang menyeramkan.
Otoritas Tel Aviv, Israel, kemarin mengimbau warga dan pemilik toko di pusat komersial Netivot untuk menutup jendela dan pintu saat kawanan lebah turun ke area tersebut.
Banyak orang mengaitkan pemandangan aneh ini dengan ketegangan yang sedang berlangsung antara Israel dan Iran. Mereka mengklaim fenomena tersebut menjadi tanda bencana yang akan datang.
Dilansir Daily Mail, Kamis (16/4), lebah-lebah itu muncul pada hari Rabu, dengan ribuan serangga terlihat beterbangan di atas jalanan, kendaraan yang diparkir, toko, dan balkon.
Pemandangan tersebut memicu perbandingan dengan peringatan dalam Alkitab, khususnya Ulangan 1:44, yang menggambarkan musuh mengejar manusia “seperti kawanan lebah.”
“Orang Amori yang tinggal di pegunungan itu keluar melawan kamu; mereka mengejar kamu seperti kawanan lebah,” demikian bunyi ayat tersebut. Beberapa pengamat juga mengacu pada Yesaya 7:18, yang menyebut “lebah yang ada di tanah Asyur,” sebuah bagian yang sering dikaitkan dengan peringatan akan datangnya hukuman.
Memasuki Permukiman
Meski menyerupai gambaran dramatis dalam Alkitab, para ahli mengatakan bahwa peristiwa seperti ini biasanya disebabkan oleh proses alami yang disebut swarming pada musim semi, ketika sarang lebah yang terlalu padat akan terbelah dan ribuan lebah pergi bersama ratunya untuk membentuk koloni baru.
Fenomena ini bersifat musiman dan normal, sering dipicu oleh cuaca hangat dan melimpahnya tanaman berbunga.
Laporan media lokal menyebutkan bahwa kawanan lebah juga telah memasuki kawasan permukiman, dan warga diperingatkan untuk tidak mendekati lebah tersebut.
Seorang pengguna media sosial yang membandingkan kejadian ini dengan Ulangan 1:44 mengatakan: “Ini menggambarkan kekalahan militer bangsa Israel setelah mereka tidak menaati perintah Tuhan untuk naik dan menduduki negeri itu.
Alih-alih percaya kepada Tuhan, mereka maju dengan kekuatan sendiri, dan orang Amori menyerang mereka.”
Pengguna lain menulis di X: “Dalam Yesaya 7:18, Tuhan menggunakan metafora lebah untuk menggambarkan pasukan penyerbu yang didatangkan untuk menghukum bangsa Israel: ‘Pada hari itu TUHAN akan bersiul memanggil lalat yang ada di ujung sungai-sungai Mesir, dan lebah yang ada di tanah Asyur.’
‘Siulan’ Tuhan ini menghadirkan pasukan Asyur (digambarkan sebagai lebah) ke tanah Yehuda, sebagai agen hukuman ilahi yang cepat, agresif, dan menyengat.”
Ekspansi Perkotaan
Para ahli mencatat bahwa kawanan besar seperti ini memang terlihat mengkhawatirkan, tetapi sering kali justru menjadi tanda populasi lebah yang sehat dan berkembang, bukan sesuatu yang berbahaya.
Ketika koloni tumbuh pesat pada musim nektar puncak, mereka menghasilkan ratu tambahan dan membelah diri menjadi beberapa kelompok, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya swarming yang terlihat jelas di area padat penduduk.
Kondisi geografis Israel juga berperan, karena negara ini berada di jalur migrasi utama bagi serangga dan penyerbuk yang bergerak antara Afrika, Eropa, dan Asia. Ditambah dengan pertanian yang padat, termasuk kebun jeruk, bunga liar, dan lahan irigasi, kondisi ini menciptakan sumber makanan ideal yang dapat mendukung populasi lebah dalam jumlah besar pada waktu-waktu tertentu.
Ekspansi perkotaan juga meningkatkan interaksi antara manusia dan lebah.
Seiring kota berkembang, lebah semakin sering membuat sarang di dinding, atap, kotak utilitas, dan bangunan terbengkalai, sehingga ketika koloni berpindah, mereka lebih mungkin muncul di atas jalan, pasar, dan kawasan permukiman daripada di ladang terpencil.
Pola Cuaca
Pola cuaca juga dapat berkontribusi terhadap kemunculan massal secara tiba-tiba, misalnya suhu hangat yang diikuti angin ringan dapat mendorong lebah meninggalkan sarang pada waktu yang bersamaan, sehingga terlihat seperti kawanan besar yang bergerak serempak, meskipun sebenarnya itu bagian dari perilaku koloni yang normal.
Para ahli juga menegaskan bahwa pemandangan dramatis seperti ini jarang terkait dengan agresi. Lebah yang sedang berpindah biasanya fokus melindungi ratu dan mencari lokasi sarang baru, sehingga mereka cenderung kurang defensif dibandingkan lebah yang menjaga sarang tetap.
Fenomena kawanan lebah ini terjadi kurang dari sebulan setelah ribuan burung gagak memenuhi langit Tel Aviv.
Rekaman yang diambil pada 24 Maret memicu klaim sebagai “pertanda bencana.”
“Ini dianggap oleh banyak orang sebagai pertanda kehancuran yang sering diikuti bencana besar,” tulis seorang pengguna di X, sementara yang lain mengaitkannya dengan nubuat Alkitab.
Mereka merujuk pada Wahyu 19:17, yang menggambarkan seorang malaikat berdiri di matahari dan berseru kepada burung-burung di udara untuk berkumpul dalam “perjamuan besar Allah.”
Kawanan burung yang berputar menciptakan awan gelap yang bergerak di langit kota, membuat warga dan penonton terkejut oleh skalanya yang sangat besar.
Namun, ilmuwan yang mempelajari burung menegaskan bahwa fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang supranatural, melainkan bagian dari migrasi musiman rutin di salah satu jalur migrasi burung tersibuk di dunia.
Para ahli mencatat bahwa sekitar 500 juta burung melewati Israel setiap tahun selama migrasi musim semi, dengan gagak bertudung sering berkumpul di area perkotaan selama musim bersarang.