Revitalisasi 926 Sekolah Rusak Akibat Banjir di Kalsel Jadi Prioritas Anggaran 2026
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel memprioritaskan revitalisasi 926 sekolah yang rusak akibat banjir pada anggaran 2026, berkoordinasi intensif dengan Kemendikbudristek.
Sebanyak 926 unit gedung sekolah di Kalimantan Selatan (Kalsel) yang mengalami kerusakan parah akibat terdampak banjir akan menjadi program prioritas revitalisasi. Program ini dijadwalkan akan dilaksanakan pada tahun anggaran 2026 mendatang untuk memastikan fasilitas pendidikan kembali berfungsi optimal.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Selatan secara intensif berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI terkait alokasi anggaran. Langkah ini diambil untuk mempercepat penanganan dan penyaluran bantuan bagi fasilitas pendidikan yang vital bagi keberlangsungan belajar mengajar.
Kepala Disdikbud Kalsel, Galuh Tantri Narindra, menjelaskan bahwa fokus utama adalah memastikan ketersediaan dana untuk program revitalisasi. Selain perbaikan infrastruktur, bantuan juga akan diberikan kepada para siswa yang terdampak, khususnya mereka yang kehilangan perlengkapan sekolah.
Koordinasi Intensif untuk Anggaran Revitalisasi
Galuh Tantri Narindra menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan Kemendikbudristek RI. Koordinasi ini bertujuan untuk memastikan alokasi anggaran yang memadai bagi program revitalisasi sekolah yang terdampak banjir di Kalsel. “Fokus utama adalah alokasi anggaran untuk program revitalisasi sekolah yang akan diprioritaskan pada 2026. Kemendikbudristek ada alokasi anggaran revitalisasi prioritas 2026, untuk sekolah yang terdampak banjir di Kalsel,” ujar Tantri di Banjarbaru, Sabtu.
Data terbaru menunjukkan bahwa 926 sekolah mengalami kerusakan akibat bencana banjir, mencakup berbagai jenjang pendidikan. Disdikbud Kalsel terus memperbarui data ini untuk memastikan penanganan yang cepat dan tepat. Upaya ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dan pusat untuk memulihkan kondisi pendidikan pasca-bencana.
Revitalisasi ini tidak hanya mencakup perbaikan fisik bangunan, tetapi juga upaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman. Dengan adanya dukungan anggaran dari Kemendikbudristek, diharapkan proses pemulihan dapat berjalan lancar dan efektif. Hal ini krusial untuk menjaga kualitas pendidikan di wilayah terdampak.
Dampak Banjir Meluas: Kerusakan Infrastruktur dan Bantuan Siswa
Dampak banjir di Kalimantan Selatan tidak hanya terbatas pada kerusakan infrastruktur sekolah, tetapi juga dirasakan langsung oleh para peserta didik. Dari 926 sekolah yang rusak, rinciannya meliputi:
- PAUD: 372 unit
- SD: 421 unit
- SMP: 83 unit
- SMA dan SMK sederajat: 50 unit
Kerusakan ini mencakup baik sekolah negeri maupun swasta, menunjukkan skala bencana yang luas dan memerlukan penanganan komprehensif.
Selain infrastruktur, sekitar 700 siswa jenjang SMA dan SMK juga terdampak secara ekonomi dan fasilitas belajar. Banyak di antara mereka yang kehilangan perlengkapan sekolah penting, seperti tas, seragam, hingga buku-buku pelajaran. “Kami terus melakukan pembaruan data terkait sekolah-sekolah yang terdampak bencana banjir. Kami ingin memastikan percepatan penanganan dan penyaluran bantuan bagi fasilitas pendidikan,” tutur Tantri.
Oleh karena itu, Disdikbud Kalsel tidak hanya fokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga memberikan bantuan langsung kepada siswa yang terdampak. Bantuan berupa perlengkapan sekolah ini diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat belajar para siswa. “Kami akan salurkan langsung bantuan kepada siswa yang terdampak, kami dengar ada yang kehilangan tas sekolah, seragam, hingga buku-buku. Semoga mereka bisa lebih bersemangat kembali ke sekolah dan mengikuti proses belajar mengajar seperti biasa,” tambah Tantri.
Sumber: AntaraNews