Rektor USU Dorong Lulusan Perkuat Adaptasi Dunia Kerja Hadapi Tantangan Global
Rektor USU Prof Muryanto Amin menekankan pentingnya adaptasi dunia kerja bagi alumni. Ia menyoroti tantangan global dan ketidaksesuaian keterampilan yang membutuhkan pembelajaran berkelanjutan.
Medan, 9 Mei - Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Muryanto Amin mendorong para lulusan perguruan tinggi tersebut untuk terus belajar dan memperkuat kemampuan adaptasi mereka. Hal ini sangat penting, terutama dalam menghadapi dinamika pasar kerja yang terus berubah dan semakin kompetitif.
Imbauan ini disampaikan kepada 1.586 lulusan USU yang baru diwisuda, baik yang telah memiliki pekerjaan maupun yang sedang mencari peluang karier. Prof Muryanto Amin menekankan bahwa prinsip terpenting adalah tidak boleh berhenti untuk terus belajar dan mengembangkan diri.
Tujuannya adalah agar alumni USU memiliki dua kekuatan sekaligus: kemampuan adaptasi yang cepat dan kemampuan untuk disegani oleh dunia industri. Pernyataan ini disampaikan di Medan pada hari Sabtu, 9 Mei, saat acara wisuda USU.
Tantangan Global dan Kesenjangan Keterampilan Tenaga Kerja
International Labour Organization (ILO) mencatat bahwa banyak perusahaan di berbagai negara mengalami kesulitan menemukan tenaga kerja dengan kompetensi yang sesuai. Kesenjangan ini terutama terasa pada bidang-bidang krusial seperti teknologi, digital, energi terbarukan, dan kesehatan.
Secara global, sekitar 37 persen pekerja bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keterampilannya. Sementara itu, 53 persen pekerja mengaku mengalami ketidaksesuaian antara pendidikan yang ditempuh dengan pekerjaan yang dijalankan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dunia kerja modern tidak hanya menghadapi persoalan pengangguran, tetapi juga ketidaksesuaian yang signifikan antara keterampilan tenaga kerja dan kebutuhan industri. Tingkat horizontal mismatch, atau ketidaksesuaian antara latar belakang pendidikan dan bidang pekerjaan, tercatat mencapai sekitar 60,52 persen.
Ironisnya, saat perusahaan dipaksa menjadi lebih digital, otomatis, dan adaptif untuk bertahan dalam situasi global yang tidak stabil, banyak tenaga kerja belum sempat menyesuaikan kompetensinya. Ini menciptakan tantangan besar bagi pasar tenaga kerja global.
Pergeseran Kebutuhan Industri dan Kesiapan Alumni
Dunia industri saat ini menegaskan telah terjadi pergeseran (shifting) kebutuhan profil pekerja berikut seluruh sistem yang ada di dalamnya. Perusahaan dituntut untuk lebih digital, otomatis, dan adaptif agar dapat bertahan di tengah ketidakstabilan global.
Tantangan terbesar dunia kerja masa depan bukan hanya menciptakan lapangan pekerjaan baru. Namun juga memastikan bahwa tenaga kerja memiliki keterampilan yang relevan, adaptif, dan mampu mengikuti perubahan global yang berlangsung sangat cepat.
Prof Muryanto Amin menegaskan, "Bagi yang telah memiliki pekerjaan dan atau sedang mencari pekerjaan, maka prinsip yang paling penting adalah tidak boleh berhenti untuk terus belajar. Sehingga, alumni USU memiliki dua kekuatan sekaligus yaitu kemampuan adaptasi yang cepat dan disegani oleh dunia industri."
Meskipun alumni USU mungkin belum secara langsung merasakan perubahan kebutuhan profil tenaga kerja, menurunnya jumlah kelas menengah di Indonesia menunjukkan korelasi dengan fakta pergeseran dunia tersebut. Hal ini menjadi sinyal penting bagi para lulusan.
Pentingnya Keterampilan Praktis di Era Modern
Rektor USU juga menyoroti bahwa ijazah yang dimiliki ternyata tidak lebih penting ketimbang keterampilan praktis, pengalaman kerja, dan portofolio. Hal ini mencerminkan tuntutan pasar kerja yang semakin mengutamakan kemampuan aplikatif.
Sertifikasi, kemampuan teknologi, dan kemampuan problem solving juga menjadi faktor krusial yang harus dimiliki oleh setiap individu. Kemampuan-kemampuan ini akan membantu lulusan untuk lebih kompetitif dan relevan di berbagai sektor industri.
"Oleh karena itu, menjadi keniscayaan bahwa alumni USU mempersiapkan dirinya agar dapat diperhitungkan dalam industri dan dunia kerja," tambah Prof Muryanto Amin. Persiapan diri yang matang dengan fokus pada pengembangan keterampilan adalah kunci kesuksesan.
- International Labour Organization (ILO) mencatat kesulitan perusahaan menemukan tenaga kerja kompeten di bidang teknologi, digital, energi terbarukan, dan kesehatan.
- Sekitar 37% pekerja global bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan keterampilannya.
- 53% pekerja mengaku mengalami ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan.
- Tingkat horizontal mismatch mencapai sekitar 60,52%, menunjukkan ketidaksesuaian pendidikan dan bidang pekerjaan.
Sumber: AntaraNews