Rekam Jejak Karier Dino Patti Djalal yang Disebut Seskab Teddy Jabat Wamenlu 3 Bulan, Pernah Raih Bintang Jasa Utama
Nama Dino disorot setelah kritik disampaikannya langsung mendapatkan respons Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya.
Nama Mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal menjadi sorotan setelah mengkritik perjalanan ke luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dino menyoroti lawatan Prabowo ke luar negeri dalam periode 1,5 tahun terakhir termasuk biaya perjalanan.
Nama Dino disorot setelah kritik disampaikannya langsung mendapatkan respons Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya. Tidak tanggung-tanggung, Teddy menjawab kritik Dino dengan menyebutnya sebagai Wamenlu yang berumur tiga bulan.
"Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir Beliau (Dino Patti Djalal) adalah diplomat hebat, pernah menjadi wakil menteri luar negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan," ujar Teddy dalam tayangan berdurasi 6 menit sebagaimana dikutip dari akun Sekretariat Kabinet di Jakarta, Senin (1/6).
Ada delapan poin jawaban dan klarifikasi Teddy atas kritik-kritik dan pernyataan disampaikan Dino. Salah satunya menjawab masalah biaya perjalanan lawatan luar negeri Prabowo, dikritik Dino sangat besar.
"Segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.
Teddy juga menjawab kritik terkait jumlah rombongan kepresidenan dilibatkan dalam perjalanan luar negeri Prabowo.
Teddy menunjukkan jika dibandingkan dengan pendahulu-pendahulunya, Prabowo telah memangkas jumlah rombongan dilibatkan dalam setiap agenda luar negeri Kepala Negara.
"Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran. Lebih dari separuh dari periode sebelumnya. Jadi, kalau dulu, itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang. Zaman Pak Dino seperti itu, Nah, jaman Presiden Prabowo, jumlahnya antara 50 sampai 60 orang maksimal," ujar Teddy.
Terkait jadwal lawatan luar negeri Presiden, Dino sebelumnya menyarankan lawatan luar negeri dipetakan setidaknya setahun sebelumnya.
Dino juga menyarankan agar Seskab Teddy dan Menteri Luar Negeri Sugiono untuk mengumumkan rencana lawatan luar negeri Presiden sebulan sebelum keberangkatan atau minimal seminggu sebelum keberangkatan.
Seskab Teddy kemudian menjawab jadwal lawatan luar negeri Presiden itu terbagi atas jadwal tahunan dan jadwal yang mendesak mengikuti perkembangan dunia global yang dinamis.
"Perkembangan dunia global itu sangat dinamis, hari per hari. Jadi, ada jadwal tahunan, dan ada jadwal yang mendesak sesuai kebutuhan dalam negeri dan luar negeri suatu negara," kata Teddy.
Perjalanan Karier Dino
Dino hingga kini belum merespons balik jawaban Teddy. Akan tetapi, mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat disebut Teddy hanya menjabat Wamenlu tiga bulan merupakan salah satu tokoh diplomasi senior Indonesia.
Sebagaimana dilansir dari situs WRI Indonesia, Dino mengawali karier sebagai diplomat setelah bergabung dengan Departemen Luar Negeri Indonesia pada tahun 1987. Dino pernah ditugaskan di London (1992-1997), Dili (1999), dan Washington (2000-2002), sebelum akhirnya diangkat menjadi Direktur Urusan Amerika Utara (2002 -2004).
Kemudian dari 2004 hingga 2010, Dino ditunjuk menjadi juru bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dino lalu menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat pada 2010-2013.
Sebagai Duta Besar, Dino mendirikan dan menyelenggarakan Kongres Diaspora Indonesia dunia pertama dan telah memajukan Kemitraan Komprehensif AS-Indonesia. Dino sebelumnya memprakarsai Dialog Keamanan AS-Indonesia, yang dimulai pada tahun 2001, dan proses Forestry-11 (F-11), sebuah proses konsultasi yang melibatkan hutan hujan tropis negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, yang dimulai tahun 2007.
Dino juga anggota Dewan Pemerintahan untuk Institut Perdamaian dan Demokrasi (IPD), yang didirikan oleh Forum Demokrasi Bali dan anggota Dewan Eksekutif Indonesian Council on World Affairs (ICWA).
Terlepas dari tugas resminya, ketertarikan terbesar Dino adalah pada pemuda. Dia merupakan pendiri Modernisator, sebuah gerakan pemimpin muda yang progresif dan reformis, dan konseptor dari Generation-21, sebuah program yang bertujuan untuk membangkitkan dan mengembangkan kesadaran akan tantangan dan identitas di kalangan muda. Saat ini, Dino juga aktif memimpin Foreign Policy Community of Indonesia, sebuah komunitas kebijakan luar negeri beranggotakan para pemuda.
Dino memperoleh gelar sarjana di bidang Ilmu Politik dari Universitas Carleton (Ottawa, Kanada) dan gelar master di bidang Ilmu Politik dari Universitas Simon Fraser (British Columbia, Kanada). Pada tahun 2000, dia memperoleh gelar doktor dari London School of Economics and Political Science.
Pada tahun 2010, Dino menerima medali Bintang Jasa Utama dari Presiden Yudhoyono, salah satu penghargaan tertinggi di Indonesia untuk layanan tertinggi. Pada tahun 2012, ia menerima penghargaan Indonesia Marketing Champion 2012 untuk sektor pemerintah dan layanan publik dan penghargaan Marketer of the Year 2012 dari Asosiasi Pemasaran Indonesia, MarkPlus Inc, dan Marketer. Dino juga penulis tujuh buku.