Pura hancur diterjang banjir, hanya patung Ganesha ini yang selamat
Banyak orang berbondong-bondong berdoa melihat patung Ganesha selamat dari terjangan banjir bandang.
Banjir bandang meluluh lantahkan lima desa di wilayah Kecamatan Gerograk, Buleleng Bali dengan penuh lumpur. Tak cuma rumah warga Pura Taman Belatung di desa Banyupoh, Buleleng juga ikut tersapu banjir.
Namun ada sebuah patung Genesha Pura yang tetap kokoh tidak bergesar apalagi hancur dan tertutup lumpur saat banjir bandang menyapu areal Pura Taman Belatung. Padahal, di sekitar Pelinggih Ganesha itu hancur dan rata dengan tanah.
Pura Subak yang berada di atas Pura Taman Belatung, itu juga hancur total yang rata dengan tanah saat diterjang banjir bandang. Pura Taman Belatung berukuran 8 X 9 meter yang hancur diterjang ombak ini hanya menyisakan pelinggih Patung Ganesha yang merupakan Pura Genah pelukatan (tempat pembersihan) sebelum melakukan persembahyangan di Pura Belatungan.
"Kalau kita mau melakukan persembahyangan di Pura tersebut, kita terlebih dahulu melakukan bhakti di pura Ghana (Ganesha). Di situ kita melakukan pembersihan pelukatan (basuhan air suci). Saat banjir menghancurkan pura, hanya pelinggih ini yang tetap kokoh, bahkan banjir terus mengalir," ungkap Ida Mangku Anom, Pemangku di pura Taman Belatung, Minggu (24/1) di Buleleng Bali.
Keunikan ini memancing para warga setempat mulai berdatangan dan melakukan bhkati kendati air deras masih mengucur ke wilayah ini. Bahkan konon katanya, para pejabat pemerintahan dan tokoh politik melakukan ritual di Pura Taman Belatung, ini sebelumnya.
patung ganesha selamat dari banjir bandang ©2016 Merdeka.com/gede nadi jaya
Kata Mangku Anom, Sebelum kejadiaan naas yang menimpa Pura ini, dirinya mendapatkan pawisik untuk mendatangi Pura itu. Usai mendapatkan pawisik itu, ia pun mengaku, mendatangi Pura itu sekitar pukul 14.00 wita pada hari sabtu (23/1), sebelum banjir bandang terjadi.
"Kemarin, jam 2 siang itu saya ingin sekali ke Pura. Tapi sampai di Pura, saya kok tidur dan saya tidak terasa kalau sedang tidur. Tiba-tiba hujan dan saya bangun, tiba-tiba saya sudah lihat ada air besar datang. Tiba-tiba saja airnya dari selatan begitu deras, airnya naik sampai saya bingung mencari tempat berlindung. Semuanya hancur. Saya menuju ke patung Ganesha mohon perlindungan," kenang Mangku Anom.
Mangku Anom menceritakan bahwa dirinya menyaksikan detik demi detik bagaimana setiap tugu pelinggih hancur diterjang air dan lumpur yang begitu deras.
"Saat itu seperti badai kiamat, batu, batang pohon dan air deras memasuki pura. Saya teriak mohon pada sesuhunan Hyang Widhi (Maha Kuasa) agar Pura ini diselamatkan," tutur Mangku Anom.
Pasca kejadian ini Desa Adat Banyu Poh akan segera melakukan Paruman Desa, menyikapi kondisi Pura yang diempon pengempon Desa Adat Subak Desa Banyu Poh, yang kini hancur total usai dihantam banjir bandang.
"Kalau secara adat, itu harus melakukan percaruan dan pembersihan, serta upacara untuk melakukan perbaikan. Setelah itu, dilakukan sangkep (rapat desa) kalau bagaimana hasil Panitia, akan direncanakan dibangun kembali," tutur dia.
Salah seorang warga yang tidak mau namanya disebutkan sangat menyayangkan para pejabat dan tokoh politik yang saat Pilkada serentak berbondong-bondong mohon kemenangan ke sini.
"Banyak pejabat dan tokoh politik minta berkah. Juga para calon pemimpin saat Pilkada juga datang ke tempat ini. Saat desa kami hancur, kemana mereka ya pak. Mungkin besok dan besok seperti janji janji politiknya," sentil orang ini ketus.
Baca juga:
Banjir lumpur terjang lima desa di Buleleng
Banjir bandang Buleleng, ratusan warga mengungsi, 1 desa terisolir
5 Desa di Buleleng banjir lumpur dan batu, puluhan ternak mati
Puluhan rumah di Pontianak rusak diterjang puting beliung
Snowzilla menggila, segelintir mahasiswa AS nekat berenang di salju
Badai salju landa Washington D.C, KBRI minta WNI jaga keselamatan
Rumah dan kantor polisi rusak diterjang puting beliung di Buleleng