Polisi Periksa 4 Pegawai RSUD Serang Soal Mahalnya Pemulangan Korban Tsunami
Sebelumnya, kerabat korban tsunami Banten mengeluhkan besarnya pungutan biaya jutaan rupiah untuk membawa jenazah pulang yang diduga dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Umum dr Drajat Prawiranegara, yang merupakan rumah sakit daerah Kabupaten Serang.
Polres Serang memeriksa 4 orang pegawai RSUD dr. Dradjat Prawiranegara Serang terkait keluhan salah satu rekan korban tsunami akan mahalnya biaya pemulangan jenazah. Tak tanggung-tanggung, kerabat korban harus merogoh kocek Rp 3,9 juta agar bisa membawa pulang jenazah keluarga.
Kapolres Serang Kota AKBP Firman Affandi mengatakan empat orang yang diperiksa adalah pegawai bagian Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal (IKFM) rumah sakit pemerintah Kabupaten Serang.
"Jumlahnya empat orang (yang sudah diperiksa)," kata Firman Affandi melalui telepon, Kamis (27/12).
Mereka yakni, BD sebagai kepala forensik, BY sopir ambulance, FT dan AR sebagai anggota forensik rumah sakit.
"Siang ini kami gelar perkara. Nanti setelah itu kami akan lihat perkara tersebut naik ke tahap penyidikan atau tidak," ujarnya.
Pun polisi menunggu adanya laporan dari kerabat korban lainnya jika mengalami hal serupa.
"Kalau memang ke korban lain kita akan dalami lagi. Kita klarifikasi betul kalau memang ada sudah bisa dinaikkan ke penyidikan," ujarnya.
Sebelumnya, kerabat korban tsunami Banten mengeluhkan besarnya pungutan biaya jutaan rupiah untuk membawa jenazah pulang yang diduga dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Umum dr Drajat Prawiranegara, yang merupakan rumah sakit daerah Kabupaten Serang.
Badiamin Sinaga, kerabat korban mengungkapkan bahwa pembayaran tersebut dilakukan untuk biaya perawatan jenazah dan transportasi, biaya itu disebutkan untuk formalin dan mobil jenazah.
"Kejadian (pungutan biaya) itu benar terjadi. Mungkin dipikirkan karena korban orang Jakarta jadi akan mudah diminta uang," kata Badiamin melalui sambungan telepon, Rabu (26/12).
Pembayaran dianggap terlalu besar dan dari pembayaran tersebut keluarga korban menerima kwitansi atas pembayaran. "Ada kwitansinya. Jelas tertulis di situ, kalau hanya omong-omong kan tidak ada bukti. Kalau ini ada buktinya, jelas," katanya.
Diungkapkannya pembayaran tersebut, untuk ketiga korban meninggal akibat tsunami. Ketiganya merupakan keluarga dari Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. "Korban sedang berlibur di Carita saat peristiwa tsunami terjadi," ujarnya.
Pembayaran berbeda-beda, korban atas nama Ruspin Simbolon, Rp3.900.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah, formalin dan mobil jenazah. Bayi Satria, Rp 800.000 untuk biaya pemulasaraan jenazah, formalin serta korban atas nama Leo Manulang, Rp 1.300.000 untuk biaya pemulsaraan jenazah dan formalin.
Baca juga:
Polisi Selidiki Rumah Sakit Minta Uang Untuk Ambil Jenazah Korban Tsunami
Mahalnya Biaya Pemulangan Jenazah di RSUD Serang juga Dikeluhkan Warga
Korban Tsunami Keluhkan Mahalnya Biaya Pemulangan Jenazah di RSUD Serang
Anak Krakatau Siaga, BMKG Minta Warga Waspada Potensi Tsunami di Selat Sunda
Gunung Anak Krakatau Berstatus Siaga Dampak Aktivitas Terus Meningkat
Tak Ada Data Antemortem, Tim DVI Sulit Identifikasi 11 Jenazah Korban Tsunami
Gunung Anak Krakatau Berubah Status Jadi Siaga