Perjuangan siswi SMP ini demi sekolah dan bantu orangtua tuai pujian
Perjuangan siswi SMP ini demi sekolah dan bantu orangtua tuai pujian. Dalam kondisi tangan yang tidak sempurna, dia harus menempuh jarak 5 Km untuk bersekolah. Rutinitas itu dia lakoni dengan mengayuh sepeda di jalan yang terjal dan berbatu.
Miris melihat kondisi Ni Luh Mandri, siswi SMPN 5 Melaya, Jembrana di Bali ini. Dalam kondisi tangan yang tidak sempurna, dia harus menempuh jarak 5 Km untuk bersekolah. Rutinitas itu dia lakoni dengan mengayuh sepeda di jalan yang terjal dan berbatu.
Mandri tidaklah sendiri, Dia masih memiliki tiga adik yang masih balita. Putri pertama dari pasangan Kadek Raun (36) dan istrinya Luh Sumerti (32) itu sudah banyak dikenal warga yang tinggal di Dusun Palarejo Desa Ekasari Melaya, Jembrana. Kegemarannya menyapa setiap warga saat dirinya berangkat dan pulang sekolah menjadikan siswi kelas 9 ini begitu banyak di kenal warga. Terlebih dengan kondisinya yang cacat fisik tetapi tidak menyurutkan semangatnya bersekolah.
Mandri dan keluarganya tinggal di pinggir bendungan Palasari Melaya. Untuk menuju rumahnya harus menempuh perjalanan jauh dengan kondisi medan yang terjal dan curam. Jalan menuju lokasi juga rusak parah dipenuhi kerikil-kerikil lepas.
Keluarga ini tergolong tidak mampu yang masuk dalam buku merah. Namun karena kendala tanah yang ditempati merupakan milik Proyek Irigasi Bali (PIB) sehingga belum bisa diusulkan mendapatkan bantuan bedah rumah.
Kepala Dusun Palarejo Desa Ekasari Melaya mengatakan, keluarga ini tetap menerima raskin. Sedangkan Mandri menerima bantuan beasiswa karena memiliki kartu KIS. Keluarga ini tidur dalam sebuah gubuk jadi satu dengan dapur dengan kondisi dua kasur dan tikar yang sudah lusuh. Sementara gubuk mereka juga sudah reyot dan pondasinya amblas.
Ni Luh Mandri ©2016 Merdeka.com
Cerita ayah Mandri, tangan kanan putrinya buntung tidaklah bawaan dari lahir tetapi akibat amputasi sewaktu masih duduk di kelas 2 SD.
"Sewaktu saya kelas 2 SD saya jatuh dari pohon sehingga tangannya patah dan membusuk. Saya tidak punya apa-apa, jadi untuk berobat ke dokter tidak kami lakukan. Saat itu hanya kami ikat saja, tetapi justru terjadi pembusukan dan harus di potong," tutur Raun, ayah Mandri, Jumat (30/9).
Meskipun tangan kanannya cacat tapi Ni Luh Madri tetap semangat menjalani hari-harinya. Bahkan dia dengan kesadaran sendiri membantu orang tuanya yang hanya petani mencari kayu bakar. Bahkan kayu bakar dicari di seberang bendungan Palasari yang ada di bawah rumahnya dengan mengayuh rakit kayu dengan satu tangan.
"Ya saya naik rakit sendiri dan sudah biasa. Saya bantu orang tua dua hari sekali mencari kayu bakar ke seberang bendungan. Saya kayuh pakai pelepah kelapa. Di seberang lebih banyak ada kayu bakar. Saya kasihan melihat orangtua saya hanya petani dan adik-adik masih kecil-kecil," katanya.
Mandri mengaku tidak ada kendala dalam menjalani hari-harinya. Bahkan dia bisa berenang meski menggunakan satu tangan. Sehingga dia tidak pernah khawatir jika terjatuh di bendungan yang dalam.
Melihat kondisi keluarga tersebut, Kapolres Jembrana AKBP Djoni Widodo tersentuh hatinya. Melalui Wakapolres Kompol AA Rai Laba, Kapolres membantu keluarga ini. Bantuan berupa dana untuk biaya sekolah dan sembako.
Bersama Kapolsek Melaya Kompol Ketut Darmita, Babinkamtibmas, Babinsa Ekasari, Kadus Palarejo dan sejumlah relawan Wakapolres mewakili Kapolres Jembrana langsung menuju rumah pasutri tersebut. "Kami prihatin dengan kondisi siswi dan keluarganya seperti ini. Kami juga salut dengan semangatnya. Jadi mari kita bantu sama-sama," ujar AA Rai Laba, Jumat (30/9) serambi berharap kepedulian antar sesama ditingkatkan dan program Jumat Berbagi Polres Jembrana ini bisa berkesinambungan.
Baca juga:
Semangat hidup pejuang Revolusioner Kolombia yang kehilangan tangan
Penari difabel ini pantang kalah dengan nasib dan wujudkan mimpi
Mereka yang bisa wujudkan mimpi walau tanpa anggota tubuh lengkap
Kebutaan tak bisa halangi pemuda ini wujudkan mimpi jadi atlet
Sri Lestari, 'Kartini' dan penyemangat kaum difabel
Kisah penderita down syndrome bertahan hidup jadi penari keliling