Pengurus Yayasan Ngamuk di Depan Siswa TK, Teriak Kasar Sambil Banting-Banting Barang
Orangtua siswa lapor polisi ceritakan kronologi kejadian
Seorang pengurus salah satu Yayasan yang menaungi taman kanak-kanak di Kecamatan Tarogong Kidul, Garut, Jawa Barat dilaporkan ke polisi oleh salah seorang orang tua siswa. Langkah pelaporan dilakukan setelah pengurus Yayasan tersebut marah-marah di area sekolah.
Orang tua siswa yang melaporkan, Gunawan (bukan nama sebenarnya) menjelaskan bahwa pelaporan dilakukan berawal dari kejadian yang terjadi pada Selasa (6/5).
"Saya membuat laporan karena salah satu pengurus Yayasan melakukan sesuatu hal yang tidak terpuji, tiba-tiba mengamuk tanpa sebab yang jelas," jelasnya, Rabu (7/5).
Tidak hanya itu saja, menurut Gunawan salah satu pengurus Yayasan tersebut juga melakukan upaya perusakan di salah satu ruangan sarana pendidikan TK. Peristiwa itu terjadi di depan matanya dan sejumlah anak didik yang ada di sekolah.
"Awalnya saya datang ke sekolah dengan istri untuk mengantarkan anak sampai gerbang sekolah karena memang orang tua siswa tidak boleh masuk ke area sekolah. Saat itu tiba-tiba muncul mobil hitam dan hampir menyerempet kami dan sopirnya seorang pria yang tidak kami kenal," katanya.
Gunawan mengaku tidak berpikir jauh sehingga sempat hendak kembali, dan pria dari mobil itu turun memaksa masuk ke salah satu ruang sekolah. Setelahnya, ia mendengar teriakan kasar dan bantingan benda di dalam ruangan.
Ia yang mengkhawatirkan kondisi anaknya langsung mencoba masuk ke dalam ruangan tersebut. "Saat di dalam, saya melihat kondisi sudah kacau dan pria itu sedang membanting barang dan menendang sambil meneriakan kalimat intimidatif," ucapnya.
Melihat kondisi tersebut, ia bersama istrinya dan para guru langsung mencari keberadaan anaknya yang baru masuk. Di sana ia melihat anaknya sedang ketakutan sambil menangis dan berlindung di balik pintu ruangan.
Ngaku Pengurus Yayasan
Gunawan mengaku sempat menegur pria yang sedang emosi itu dan mengingatkan agar tidak melakukan tindakan tidak terpuji, apalagi sedang banyak anak-anak yang sedang belajar. Diingatkan itu, menurutnya, si pria menjawab dengan nada emosi.
"Dia menyampaikan bahwa dirinya adalah pengurus Yayasan. Saya juga sempat mencoba melerai dengan cara memegang pria tersebut meminta agar tidak marah-marah, namun malah terus mengamuk," ungkapnya.
Akhirnya, ia pun bersama istrinya meninggalkan ruangan tersebut dan pulang ke rumahnya. Walau begitu, Gunawan merasa miris, sedih, sakit hati, dan juga kecewa apa yang terjadi di fasilitas pendidikan yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk belajar.
Atas insiden tersebut, Gunawan sempat membawa anaknya ke psikolog untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan. Hasilnya, anaknya mengalami sejumlah dampak, mulai trauma hingga enggan untuk belajar dan harus menjalani terapi khusus.
"Karena kondisi ini, saya sudah membuat laporan resmi kepada polisi dengan harapan tidak ada lagi kejadian serupa. Tidak hanya kepada polisi, saya juga melaporkannya ke Pemerintah Kabupaten Garut melalui dinas terkait," katanya.
Ia berharap agar kejadian tersebut menjadi perhatian bersama agar tidak muncul korban-korban lainnya. "Anak telah jelas dijamin hak-haknya berdasarkan Undang-Undang, saya tidak mau anak-anak yang lain mengalami atau merasakan hal serupa," harapnya.
Gunawan juga meminta agar aparat kepolisian melakukan penegakan hukum dengan adil dengan mengusut tuntas agar perilaku yang dilakukan oknum Yayasan bisa diungkap. Menurutnya, selain mengancam dan mengganggu kenyamanan siswa, juga bisa menyebabkan dampak negatif lainnya.
Sementara, Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Susilo Adhi membenarkan pihaknya telah menerima laporan dari warga terkait hal tersebut. Saat ini, menurutnya penyidik tengah melakukan penyelidikan kaitan dengan laporan tersebut.
"Iya memang betul kami telah menerima laporan tersebut. Saat ini penyidik dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Satreskrim Polres Garut sedang melakukan penyelidikan," katanya.