Pengamat klaim jumlah pemilih gemar terima 'amplop' berkurang
Di luar Jakarta, kata Eep, jumlahnya di bawah hanya sepuluh persen. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan 5 tahun lalu yang mencapai 17 hingga 22 persen.
Pengamat politik sekaligus pendiri lembaga survei PolMark Research Center (PRC) Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, menyebut ada perkembangan cukup menggembirakan terkait politik uang di berbagai wilayah Indonesia. Menurut dia, jumlah masyarakat pemilih yang gemar menerima uang dan memilih kandidat memberi semakin kecil.
"Di banyak tempat di Indonesia, jumlah mereka, masyarakat pemilih yang mengatakan akan menerima uang dan memilih yang memberi itu amat sangat kecil. Di Jakarta kemarin misalnya, 7,4 persen saja orang yang mengatakan demikian," ujar Eep, di Gelora Manahan, Solo, Minggu (14/1).
Di luar Jakarta, kata Eep, jumlahnya di bawah hanya sepuluh persen. Jumlah tersebut jauh menurun dibandingkan 5 tahun lalu yang mencapai 17 hingga 22 persen.
"Mereka yang menerima uang, memilih yang memberi," katanya.
Kondisi tersebut, lanjut Eep menyebabkan banyak politisi dan partai merasa politik uang tersebut cara yang efektif untuk meraup suara. Namun saat ini, anggapan tersebut tidak berlaku lagi.
Terkait hasil lengkap survei lembaga yang dipimpinnya, Eep mengatakan baru akan merilisnya setelah survei terakhir.
"Nantilah hasilnya akan kita sampaikan setelah survei terakhir. Saya nanti akan bolak balik ke Jawa Tengah," kilahnya.
Baca juga:
Panwaslu Cirebon akan panggil Siswandi dan PKS terkait isu mahar politik
Memperbaiki birokrasi sampai bersih
Ganjar sadar digoreng isu korupsi e-KTP
Sisir daerah rawan konflik di Pilkada Serentak, Kapolri gandeng Kemendagri
Tak cuma kantor diserang, komisioner KPU Jayawijaya juga diintimidasi