Penemuan Rafflesia Langka, UKP Pariwisata: Tanpa ilmuwan Indonesia, Rafflesia Hasseltii Tak Akan Ditemukan
Rafflesia merupakan bunga parasit raksasa yang sangat sulit ditemukan karena tidak memiliki batang dan daun, hidup terbatas di habitat tertentu.
Penemuan ulang Rafflesia Hasseltii di Hutan Sumatera Barat kembali menarik perhatian global. Namun di tengah sorotan internasional, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata (UKP Pariwisata) Zita Anjani menegaskan bahwa ilmuwan Indonesia memiliki peran kunci dalam menemukan, memetakan, hingga meriset bunga langka tersebut. Bukan hanya lembaga asing seperti Oxford atau mitra internasional lainnya.
Rafflesia merupakan bunga parasit raksasa yang sangat sulit ditemukan karena tidak memiliki batang dan daun, hidup terbatas di habitat tertentu, serta hanya mekar dalam hitungan hari. Oleh karena itu, pengetahuan ekologis dan keahlian ilmuwan lokal menjadi faktor utama yang memungkinkan penemuan ini kembali terjadi.
Menurut Zita Anjani, peneliti lokal seperti Iswandi, Joko Witono, dan Septi Andriki yang telah bertahun-tahun melakukan pemetaan, merintis jalur hutan terpencil, bekerja bersama masyarakat adat, hingga menjaga catatan ilmiah mengenai habitat Rafflesia.
"Publik harus tahu bahwa tanpa mereka, riset global pun tidak mungkin berjalan," tegasnya.
UKP Pariwisata menekankan bahwa Indonesia tetap terbuka untuk kolaborasi internasional, namun kontribusi ilmuwan lokal wajib diakui setara agar kerja sama riset berjalan adil, berintegritas, dan memberi manfaat nyata bagi konservasi serta pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis sains.
"Kolaborasi global penting. Tapi pengetahuan lokal harus dihargai setara. Tanpa ilmuwan Indonesia, Rafflesia tak akan ditemukan," kata Zita Anjani, Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata.
Pengakuan Terhadap Ilmuwan Lokal
Zita juga menekankan bahwa pengakuan kepada ilmuwan lokal bukan hanya soal penghargaan individu, tetapi bagian dari pembangunan kebijakan nasional di sektor konservasi dan pariwisata berkelanjutan.
"Konservasi bukan hanya menjaga bunga atau hutan. Ini juga tentang menjaga martabat ilmu pengetahuan milik bangsa. Kalau ilmuwan Nusantara tidak mendapat tempat yang setara, maka strategi pariwisata berbasis sains pun akan kehilangan pijakan," ujar Zita.
Penemuan ulang ini tidak hanya membuka peluang riset lebih lanjut, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati dunia yang dipimpin oleh ilmuwan Nusantara.