Pemprov Sulteng Alokasikan Rp5,6 Miliar untuk Pengadaan Antropometri, Tekan Angka Stunting
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mengalokasikan Rp5,6 miliar untuk pengadaan antropometri, alat deteksi dini stunting, guna menekan angka kasus stunting di wilayahnya dan memastikan pertumbuhan anak optimal.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng) menunjukkan komitmen serius dalam upaya percepatan penurunan stunting di wilayahnya. Mereka mengalokasikan dana insentif fiskal sebesar Rp5,6 miliar untuk pengadaan alat antropometri standar. Langkah ini diambil sebagai strategi kunci untuk deteksi dini kasus stunting yang masih menjadi perhatian utama kesehatan masyarakat.
Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, Reny A Lamadjido, menjelaskan bahwa dana tersebut tidak hanya untuk pengadaan alat. Dana juga akan digunakan untuk memperkuat pendampingan enumerator saat survei di lapangan. Hal ini penting untuk memastikan akurasi data dan efektivitas program intervensi stunting yang sedang berjalan.
Pengadaan alat antropometri ini bertujuan meningkatkan kapasitas Posyandu dan fasilitas kesehatan (faskes) dalam memantau pertumbuhan anak. Dengan alat yang standar, diharapkan data status gizi anak dapat lebih akurat. Ini akan mendukung upaya Pemprov Sulteng mencapai target penurunan stunting nasional.
Pentingnya Alat Antropometri dalam Deteksi Stunting
Alat antropometri merupakan seperangkat instrumen vital yang dirancang khusus untuk menilai pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Instrumen ini mencakup berbagai alat ukur seperti timbangan bayi dan timbangan injak. Penggunaan alat ini sangat krusial untuk mendapatkan data yang akurat mengenai status gizi anak-anak di berbagai daerah.
Selain timbangan, terdapat juga infanometer yang berfungsi mengukur panjang badan bayi secara presisi. Sementara itu, stadiometer digunakan untuk mengukur tinggi badan anak-anak yang lebih besar. Alat-alat ini memastikan pengukuran yang konsisten dan dapat diandalkan untuk pemantauan pertumbuhan.
Tidak hanya itu, alat antropometri juga dilengkapi dengan pengukur lingkar lengan atas (LILA) dan pengukur lingkar kepala (LK). Semua alat ini digunakan di Posyandu dan faskes untuk memantau status gizi serta memastikan setiap anak tumbuh sesuai standar kesehatan yang ditetapkan. Akurasi pengukuran menjadi kunci untuk menghindari fluktuasi data yang dapat menyesatkan.
Peran Strategis PKK dan Penurunan Stunting di Sulteng
Wakil Gubernur Reny A Lamadjido, yang juga menjabat Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Sulteng, menegaskan peran sentral Tim Penggerak PKK. PKK dianggap sebagai ujung tombak utama dalam upaya penurunan stunting karena jangkauannya yang langsung hingga tingkat dasawisma. Kedekatan ini memungkinkan intervensi yang lebih personal dan efektif di masyarakat.
Struktur PKK yang kuat memungkinkan implementasi program dengan pendekatan 'by name', 'by address', dan 'by case'. Pendekatan ini memastikan setiap anak yang berisiko atau terindikasi stunting mendapatkan perhatian khusus dan intervensi yang tepat sasaran. Ini membuat program penurunan stunting berjalan nyata di lapangan dan memberikan dampak signifikan.
Hasilnya, prevalensi stunting di Sulteng menunjukkan tren positif. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), angka stunting turun dari 27,1 persen pada tahun 2023 menjadi 26,1 persen di tahun 2024. Meskipun SSGI tidak dilakukan pada tahun 2025, data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) menunjukkan capaian yang lebih baik, sekitar 9,6 persen secara provinsi.
Kolaborasi Berhasil di Kabupaten Donggala
Kabupaten Donggala juga mencatat penurunan prevalensi stunting yang signifikan berkat kerja keras berbagai pihak. Wakil Bupati Donggala, Taufik Burhan, melaporkan bahwa angka stunting di daerahnya turun drastis dari 34,1 persen pada tahun 2023 menjadi 29,16 persen di tahun 2024. Ini menunjukkan efektivitas program yang dijalankan.
Berdasarkan data terakhir, prevalensi stunting di Kabupaten Donggala telah mencapai 17,1 persen. Angka ini bahkan berada di bawah standar nasional yang ditetapkan sebesar 18,6 persen. Pencapaian luar biasa ini merupakan hasil dari kerja kolaboratif yang solid antara semua pihak terkait di Donggala.
Taufik Burhan menekankan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari peran aktif PKK, kader Posyandu, dan tenaga kesehatan. Sinergi antara pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan tenaga medis menjadi kunci utama dalam mencapai target penurunan stunting. Dedikasi mereka memastikan setiap keluarga mendapatkan edukasi dan dukungan yang diperlukan.
Sumber: AntaraNews