Pemprov NTB dan Kemenbud Bersinergi Wujudkan Pembangunan Kembali Rumah Adat Bayan
Pemerintah Provinsi NTB bersama Kementerian Kebudayaan berkomitmen kuat dalam pembangunan kembali Rumah Adat Bayan pasca kebakaran, menjaga warisan budaya dan memperkuat posisi Bayan sebagai pusat kebudayaan tradisional.
Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Kementerian Kebudayaan mengambil langkah sigap untuk membangun kembali rumah masyarakat adat Bayan. Pembangunan ini dilakukan setelah insiden kebakaran yang melanda beberapa waktu lalu di Desa Bayan Timur, Kabupaten Lombok Utara. Inisiatif ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah daerah dan pusat dalam melestarikan warisan budaya Indonesia.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhamad Ihwan, menegaskan bahwa rekonstruksi rumah adat Bayan merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya Pemprov NTB menjaga ekosistem kebudayaan. Kawasan adat Bayan memiliki posisi strategis sebagai simpul wisata budaya dan pengembangan ekonomi budaya di kawasan Geopark Rinjani. Oleh karena itu, keberlanjutan tradisi dan fisik bangunannya menjadi prioritas utama.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, memberikan perhatian besar terhadap keberlangsungan rumah adat Bayan, bahkan melakukan kunjungan langsung. Dukungan ini diharapkan tidak hanya mengembalikan bentuk fisik bangunan yang terbakar, tetapi juga memperkuat posisi Bayan sebagai pusat kebudayaan tradisional Lombok yang tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Komitmen Kuat Pelestarian Budaya NTB
Pemerintah Provinsi NTB menunjukkan komitmen yang tidak main-main dalam melestarikan warisan budaya daerah. Pembangunan kembali rumah adat Bayan ini merupakan bukti nyata dari perhatian tersebut. Muhamad Ihwan menekankan bahwa masyarakat adat Bayan adalah bagian penting dari identitas kebudayaan provinsi ini yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Dukungan untuk pembangunan kembali rumah adat ini tidak hanya datang dari Pemprov NTB, tetapi juga dari Kementerian Kebudayaan RI. Bantuan disalurkan melalui Dinas Kebudayaan NTB dan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) NTB. Sinergi ini memastikan bahwa aspek fisik dan non-fisik kebudayaan dapat terjaga dengan baik.
Selain pembangunan fisik, bantuan juga mencakup dukungan untuk pelaksanaan selamatan adat saat rumah tersebut kembali ditempati. Hal ini menunjukkan pemahaman mendalam pemerintah terhadap nilai-nilai spiritual dan tradisi yang melekat pada rumah adat. Dengan demikian, proses rekonstruksi tidak hanya sekadar membangun, melainkan juga menghidupkan kembali roh kebudayaan Bayan.
Signifikansi Rumah Adat Bayan dan Dampak Kebakaran
Rumah adat Bayan, khususnya Bale Beleq Timuk Orong, adalah salah satu bangunan penting di kawasan adat Bayan yang terbakar pada Februari 2026. Peristiwa kebakaran ini bukan hanya kehilangan sebuah bangunan tradisional, tetapi juga menyentuh ruang batin masyarakat adat. Mereka telah menjaga tradisi leluhur Bayan selama ratusan tahun.
Pemangku Adat Bayan, Raden Kertamono, menjelaskan bahwa rumah adat Bayan bukan sekadar bangunan fisik semata. Ia adalah pusat ingatan budaya, tempat berlangsungnya ritus adat, musyawarah masyarakat, dan simbol keberlanjutan tradisi Bayan. Kehilangan Bale Beleq Timuk Orong merupakan pukulan besar bagi masyarakat adat.
Oleh karena itu, pembangunan kembali rumah adat ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat. Ini adalah upaya untuk mengembalikan identitas dan pusat kegiatan adat yang telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Keberadaan rumah adat ini juga vital untuk menjaga eksistensi budaya Lombok.
Proses Adat dalam Pembangunan Kembali Rumah Adat Bayan
Masyarakat adat Bayan memiliki ketentuan khusus dalam pembangunan kembali Bale Beleq. Mereka menegaskan bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan seperti membangun rumah biasa. Seluruh tahapan harus mengikuti kalender adat Bayan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Tahapan tersebut meliputi penentuan hari baik, pengambilan material bangunan, hingga ritual adat yang harus dilaksanakan saat pembangunan berlangsung. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan masyarakat adat dengan tradisi dan kepercayaan leluhur mereka. Pemerintah menghormati sepenuhnya proses adat ini.
Saat ini, pemerintah dan masyarakat adat tengah menyusun pola pembangunan yang harmonis. Pola ini tidak hanya menghormati ketentuan adat, tetapi juga memenuhi aturan administrasi pemerintahan. Tujuannya adalah agar seluruh proses pembangunan dapat dipertanggungjawabkan secara baik dan transparan. Sinergi ini penting untuk memastikan kelancaran proyek dan keberlanjutan tradisi.
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat Adat dalam Rekonstruksi
Pertemuan antara Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhammad Ihwan dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan NTB Achmad Hariri dengan tokoh-tokoh adat Bayan menjadi kunci. Tokoh adat yang hadir antara lain Raden Kertamono selaku pemangku adat, Suryanto selaku Kepala Dusun, Nikrana selaku Pembekel, serta Raden Sawungguling dari Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara. Pertemuan ini menunjukkan adanya dialog konstruktif.
Sinergi antara pemerintah dan masyarakat adat sangat penting untuk keberhasilan proyek pembangunan ini. Pemerintah menyediakan dukungan finansial dan administratif, sementara masyarakat adat memastikan bahwa prosesnya sesuai dengan norma dan tradisi. Kolaborasi ini memastikan bahwa proyek berjalan lancar dan sesuai harapan semua pihak.
Keterlibatan aktif masyarakat adat dalam setiap tahapan pembangunan akan memperkuat rasa kepemilikan mereka terhadap rumah adat. Ini juga memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap terjaga dan dihormati. Pembangunan kembali rumah adat Bayan menjadi contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat dilestarikan melalui kerja sama yang erat.
Sumber: AntaraNews