Pemkab Kubu Raya Gencarkan Antisipasi Bencana, Fokus Banjir, Puting Beliung, dan Karhutla
Bupati Sujiwo memaparkan langkah konkret Pemkab Kubu Raya dalam antisipasi bencana, khususnya banjir, puting beliung, dan karhutla, melalui normalisasi saluran air dan kolaborasi dengan perusahaan sawit.
Pemerintah Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tengah gencar melakukan berbagai upaya pencegahan dan mitigasi bencana. Bupati Kubu Raya, Sujiwo, menyoroti tiga jenis bencana yang kerap terjadi di wilayahnya, yaitu banjir, puting beliung, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Langkah-langkah strategis ini telah diimplementasikan secara masif sejak Sujiwo dilantik sebagai bupati, dengan fokus utama pada normalisasi saluran air dan penguatan kolaborasi. Inisiatif ini diambil mengingat intensitas hujan yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir serta luasnya areal perkebunan kelapa sawit yang berpotensi memicu karhutla.
Sujiwo optimistis bahwa upaya preventif yang telah dijalankan akan mampu menekan potensi bencana secara signifikan. Penanganan banjir menjadi prioritas utama, namun risiko karhutla juga tidak luput dari perhatian serius Pemkab Kubu Raya.
Upaya Masif Pencegahan Banjir di Kubu Raya
Bupati Sujiwo menjelaskan bahwa penanganan banjir menjadi prioritas utama pemerintah daerah mengingat intensitas hujan yang meningkat. Normalisasi saluran air telah dilakukan secara masif sejak dirinya dilantik sebagai bupati, mencakup sekitar 75 persen kawasan dan 100 persen kewenangan kabupaten.
Langkah tersebut mulai menunjukkan hasil positif, meskipun curah hujan tinggi, sejumlah wilayah yang sebelumnya rawan tergenang kini tidak lagi mengalami banjir. Sujiwo meyakini akan terjadi penurunan potensi banjir yang signifikan.
“Dari mulai saya selesai dilantik, kita langsung action. Hampir sekitar 75 persen kawasan sudah kita normalisasi. Kalau yang menjadi kewenangan kabupaten sudah 100 persen,” katanya di Sungai Raya, Kalbar, Sabtu.
Sujiwo optimistis upaya preventif ini dapat menurunkan potensi banjir secara signifikan, bahkan memprediksi penurunan hingga 80 persen. Ia menambahkan, “Saya meyakini akan terjadi penurunan, saya prediksi sampai 80 persen. Kemarin saya cek di beberapa titik, curah hujan agak tinggi tetapi enggak ada banjirnya.”
Kolaborasi Strategis Atasi Karhutla dan Peran Perkebunan Sawit
Selain banjir, Sujiwo juga menyoroti risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah luasnya areal perkebunan kelapa sawit di Kubu Raya. Ia menilai pendekatan kolaboratif dengan perusahaan sawit perlu diperkuat untuk menghadirkan solusi pemantauan dan pencegahan yang efektif.
Pemerintah daerah menyadari bahwa mencabut sawit yang sudah tertanam bukanlah solusi, sehingga komunikasi intensif dengan manajemen perusahaan menjadi kunci. Sujiwo berkomitmen untuk membangun sinergi demi mengantisipasi bencana banjir dan karhutla.
“Enggak mungkin kita mencabut sawit yang sudah tertanam. Artinya, ini juga harus kami jaga. Tetapi saya sebagai bupati akan membangun komunikasi dengan manajemen perusahaan-perusahaan supaya kita mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi bencana banjir dan karhutla,” kata dia.
Sujiwo mengakui karakteristik tanaman sawit yang menyerap banyak air dan kurang efektif sebagai daerah resapan saat hujan lebat. Namun, dengan kontribusinya terhadap ekonomi daerah, pemerintah tetap berkomitmen menjaga keberlanjutan perkebunan yang ada sambil mencari solusi bersama untuk memitigasi potensi bencana di Kubu Raya.
Sumber: AntaraNews