Pasien BPJS dipersulit dan keluhkan gizi makanan RSUD di Jambi
Pasien juga mengeluhkan makanan sering telat datang.
Medes, pasien rawat inap RSUD Raden Mattaher Jambi menceritakan pengalamannya sebagai pengguna kartu BPJS. Saat dirawat di rumah sakit pelat merah tersebut, Medes mengaku makan dan minum yang disediakan tidak sesuai dengan kebutuhan gizi pasien, dan makanan selalu datang terlambat.
"Makan minum ini kan untuk membantu perbaikan gizi pasien, sementara kita diberikan makanan biasa dan itu pun terlambat dari jadwalnya," kata Medes kepada Antara, Selasa (13/10).
Bahkan kata Medes, beberapa hari terakhir dirinya sempat juga diberikan rebus kisik dan ayam tapi hanya bagian sayap.
Selain itu, Medes pasien pengguna BPJS yang dirawat di ruang Kelas Rawat II (dua) itu juga mengungkapkan untuk masuk ke ruang rawat inap tidak mudah, karena pihak rumah sakit selalu bilang ruangan penuh, padahal masih baada ruangan kosong.
"Mereka bilang ruang rawat inap kelas II ini penuh. Padahal itu tidak benar, silakan kawan-kawan wartawan lihat di samping ruangan saya ini. Ruangan itu kosong," ungkap Medes.
"Ruang kelas II itu kan bagus, sejuk dan rapi, tapi bisa kalian lihat, AC-nya saja tidak hidup, belum lagi shower kamar mandinya yang tidak berfungsi," kata Medes yang sudah 10 hari dirawat di RSUD Raden Mattaher itu.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Raden Mattaher Andi Pada, mengatakan bahwa konsumsi bukanlah urusan dia.
"Itu bukan urusan saya. Langsung saja ke Kepala Bidang Pelayanan saja. Saya tidak sampai hingga mengurus urusan konsumsi itu," kata Andi Pada.
Terkait penolakan pasien BPJS oleh pihak rumah sakit dengan alasan ruangan penuh, Andi Pada membantah bahwa pihaknya telah menolak pasien.
"Kita tidak pernah menolak, siapa orangnya yang bilang kita menolak pasien. Kalau persoalan penuh itu, kita kan ada dua ruangan, satu di bawah dan satunya lagi di atas. Kalau di bawah penuh kita pindahkan ke atas, kalau di atas juga penuh, kita rekomendasikan ke rumah sakit lain," kata Andi Pada menjelaskan.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Keperawatan, Diah Anggarini, membenarkan persoalan makan dan minum untuk suplai gizi pasien itu mengalami permasalahan. Bahkan RSUD sudah kali keduanya memperingati pihak rekanan selaku pengelola makan-minum rumah sakit.
"Begini, suplai makan-minum itu kegiatannya di instalasi gizi. Namun penyedianya itu pihak rekanan yang sebelumnya ditunjuk melalui penyaringan sistem tender. Jadi semuanya kami percayakan kepada mereka," kata Diah.
Diah juga mengatakan, pelayanan makan dan minum memang sering tidak tepat waktu hingga dikeluhkan pasien. Bahkan Diah menilai itikad pihak rekanan tidak baik.
"Saya nilai pihak rekanan ini tidak baik dan kooperatif, permintaan kita dari instalasi gizi bahkan tidak mereka penuhi. Padahal, setiap hari kita rumah sakit ini melayani 200 hingga 250 pasien," kata Diah menjelaskan.
Baca juga:
Potret suram pengguna BPJS Kesehatan, dipinggirkan dan dipermainkan
Ahok senang RS milik kejagung ikut tangani pasien BPJS di Jakarta
Digigit ular, keluarga petani ini dapat santunan BPJS Rp 77 juta
Ratusan peserta BPJS mengantre cairkan dana
Masih koma, pasien BPJS RSMH Palembang dipaksa pulang