Pancasila Benteng untuk Menangkal Narasi Berbahaya Hingga Ideologi Ekstrem di Masyarakat
"Tinggal bagaimana Pancasila diterapkan agar tidak menjadi ideologi yang hanya ditataran ide."
Hijrah bukan sekadar perubahan fisik serta penampilan luar saja. Untuk meluruskan narasi hijrah diperlukan peran penting para dai, akademisi dan pemimpin bangsa.
"Kalau materinya menghasut, mengagitasi, mendukung kekerasan, tindakan radikal dan ekstrem bisa berbahaya," ujar Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia, Moch. Syarif Hidayatullah, Selasa (1/7).
Dia menekankan untuk membangun model hijrah damai dan konstruktif serta menyentuh aspek perilaku, akhlak, dan hal-hal substantif. Mengajak masyarakat untuk kebaikan, memiliki tugas penting menciptakan harmoni.
"Hijrah itu perpindahan dari satu titik ke titik lain yang upayanya adalah upaya-upaya perbaikan. Justru, kalau melakukan kekerasan itu mundur," tegas Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Sementara itu, para akademisi tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan tetapi juga menanamkan nilai-nilai positif, produktif, dan bertanggung jawab kepada siswa maupun mahasiswa, agar memiliki benteng terhadap narasi dan ideologi ekstrem.
Untuk membangun wawasan kebangsaan, Syarif menegaskan pentingnya masyarakat, pemangku kebijakan dan pemimpin menginternalisasi nilai-nilai Pancasila.
"Tinggal bagaimana Pancasila diterapkan agar tidak menjadi ideologi yang hanya ditataran ide," pungkas Syarif.