Pahit & manis bangunan megah Bung Karno dari pampasan perang
Proyek proyek prestisius dibangun Bung Karno dengan menggunakan dana pampasan perang Jepang.
Perjanjian pemberian pampasan perang oleh Jepang senilai USD 223,08 juta disahkan DPR RI pada 13 Maret 1958 dan diundangkan pada 27 Maret 1958. Berbagai proyek besar pun dibangun di Indonesia dengan dana tersebut oleh Bung Karno . Sarinah Department Store dibangun pada 1964 dari dana pampasan perang Jepang. Bangunan megah setinggi 14 lantai itu adalah pusat perbelanjaan modern pertama di Jakarta bahkan di Indonesia. Namun, bangunan itu juga sangat dikenal sebagai lokasi eskalator pertama di Indonesia. Di antara 4 hotel mewah, salah satunya dibangun di Jakarta yaitu Hotel Indonesia. Tingginya 14 lantai dan mulai dibangun pada 1962. Pelanggan yang ingin menginap harus pakai US dolar dengan tarif USD 15 per malam. Ketika itu, uang sebesar itu sangat mahal untuk ukuran penduduk lokal. Karena mahalnya tarif dan harus bayar pakai dolar, Hotel Indonesia seperti istana yang hanya bisa dimasuki orang kaya raya dan turis asing. Di antara bangunan megah yang dibuat dengan dana pampasan perang Jepang adalah Wisma Nusantara. Bangunan itu kini berada di samping kedutaan besar Inggris. Saat itu, Wisma Nusantara dengan 29 lantai adalah bangunan tertinggi di Indonesia. Kontrak pertama membangun Wisma Nusantara senilai USD 5,8 juta pada 1964. Pembangunannya terhenti karena menurunnya nilai rupiah dan peristiwa politik 1965. Tidak jauh dari peristirahatan Presiden Soekarno di Tenjolaya, Palabuhanratu, dibangun hotel paling megah di Jawa Barat dengan dana pampasan perang Jepang. Hotel di pantai Palabuhanratu itu menghadap laut Selatan dan diberi nama Samudra Beach Hotel. Baca juga:
Beberapa proyek yang dibangun antara lain jembatan yang melintasi Sungai Musi di Sumatera Selatan (Jembatan Ampera) yang diselesaikan pada Mei 1965 dengan biaya USD 11,78 juta. Bangunan prestisius lainnya adalah empat hotel besar di Jakarta (Hotel Indonesia ), Hotel Pelabuhan Ratu di Jawa Barat, Hotel Ambarukmo di Yogyakarta dan Hotel Bali Beach di Sanur. Namun demikian, ada juga sejumlah proyek yang tak selesai karena kekurangan dana. Berikut ini cerita manis dan pahit proyek-proyek prestisius yang dibangun dari dana pampasan perang Jepang.Eskalator pertama di Indonesia
Barang yang dijual di Sarinah untuk pertama kalinya menggunakan sistem harga pas. Ini agak berbeda dengan sistem tawar menawar yang selama ini dilakukan dalam perdagangan barang di Indonesia.
Sarinah merupakan bangunan yang inspirasinya diperoleh Bung Karno dari Gum, pusat perbelanjaan terbesar di Uni Soviet. Saat itu pembangunan Sarinah menghabiskan biaya USD 13 juta dengan dana pampasan perang. Pada 1969, lantai teratas pernah dibuat sebagai kasino. Bayar dolar di HI
Salah satu bar terkenal di hotel ini, Nirvana menyediakan minuman mahal seperti champagne, wine dan brandy. Keberadaannya menjadikan hotel ini tempat sosialita berkumpul, begitu juga ajang ngobrol diplomat asing.Wisma Nusantara
Akhirnya Wisma Nusantara selesai dibangun pada 1972 oleh Mitsui Corp. Dengan biaya sewa yang mahal, Wisma Nusantara hanya digunakan oleh perusahaan asing terutama perusahaan besar asal Jepang. Di puncak Wisma Nusantara, pernah terpampang papan iklan besar sebuah perusahaan otomotif Jepang.
Wisma Nusantara pernah muncul dalam film karya Sjuman Djaya berjudul Budak Nafsu (1984). Film ini bercerita tentang seorang wanita yang menjadi simpanan pria Jepang selama perang. Film peraih Citra ini sempat diprotes kedutaan besar Jepang. Hotel Samudra Beach
Hotel ini menjadi yang paling mewah di Sukabumi. Konon, banyak musibah di hotel ini. Salah satunya adalah tewasnya duta besar Bulgaria karena tenggelam di laut Selatan. Atas saran warga setempat, disediakan kamar khusus untuk Nyai Loro Kidul. Sampai sekarang, hotel ini masih berdiri megah di Palabuhanratu.
Rayuan wanita Jepang untuk Soekarno demi proyek pampasan perang
Cara Jepang lobi Dewi Soekarno demi proyek uang pampasan perang
Alasan Soekarno gunakan pampasan perang untuk proyek prestisius
Cerita uang pampasan perang dari Jepang USD 223 juta pada 1958