Nikita Willy Kenalkan Puasa Anak dengan Pendekatan Sadar, Prioritaskan Nutrisi dan Kesiapan Fisik
Menjelang Ramadhan, Nikita Willy mulai kenalkan puasa anak melalui pendekatan gentle parenting yang berkesadaran, tanpa paksaan. Ia juga tekankan pentingnya nutrisi optimal demi tumbuh kembang anak.
Aktris Nikita Willy mulai mengenalkan konsep puasa Ramadhan kepada kedua putranya, Issa Xander Djokosoetono (3) dan Nael Idrissa (1), dengan pendekatan yang penuh kesadaran. Ia memilih metode bertahap dan tanpa paksaan, menyesuaikan dengan kesiapan fisik serta emosional anak-anaknya menjelang bulan suci.
Pendekatan ini dibagikan Nikita saat menghadiri acara Boostopia by Expert Boost, sebuah inisiatif edukatif yang berfokus pada peningkatan literasi nutrisi keluarga. Acara ini diselenggarakan oleh Expert Boost by Tentang Anak untuk memberikan pengalaman belajar interaktif.
Istri dari Indra Priawan ini menekankan bahwa pengenalan ibadah dilakukan melalui contoh dalam rutinitas keluarga sehari-hari. Tujuannya agar anak dapat memahami nilai, makna, dan kebiasaan Ramadhan sesuai tahap tumbuh kembang mereka, menjadi bagian dari pola asuh sadar yang konsisten ia terapkan.
Pendekatan Gentle Parenting dalam Mengenalkan Puasa
Nikita Willy, yang dikenal luas dengan pola asuh gentle parenting, menyampaikan bahwa ia belum mengajarkan anak-anaknya untuk berpuasa secara penuh. Ia lebih fokus memperkenalkan Ramadhan sebagai bulan suci dan bagaimana umat Muslim menjalankannya. Pendekatan ini bertujuan membangun pemahaman awal yang positif tanpa paksaan.
Ia percaya bahwa anak-anak akan lebih mudah memahami konsep spiritual jika diperkenalkan secara bertahap melalui contoh dalam rutinitas keluarga. Ini sejalan dengan prinsip gentle parenting yang mengedepankan komunikasi dan pemahaman kebutuhan anak.
Melalui contoh dan rutinitas keluarga, Nikita berharap anak-anaknya dapat menyerap nilai-nilai Ramadhan secara alami. Hal ini membentuk kebiasaan baik tanpa menimbulkan tekanan atau rasa terpaksa pada si kecil.
Prioritas Nutrisi Optimal untuk Kesehatan Anak
Selain pengenalan ibadah, Nikita Willy juga memberikan perhatian besar pada aspek kesehatan dan nutrisi anak-anaknya. Ia mengaku rutin berkonsultasi dengan dokter anak untuk memastikan kebutuhan gizi, terutama mikronutrien penting, terpenuhi secara optimal.
“Dokter anakku menyarankan suplementasi vitamin D karena penting untuk kesehatan mata dan tulang,” ujar Nikita. Kesadaran ini semakin kuat setelah ia mengetahui fakta bahwa satu dari dua anak di Indonesia masih mengalami kekurangan mikronutrien penting.
Kondisi ini mendorongnya untuk lebih cermat dalam membangun rutinitas nutrisi anak, terutama menjelang periode perubahan pola aktivitas seperti Ramadhan. Ia harus memastikan nutrisi anak-anaknya cukup agar tetap sehat dan aktif.
Mengatasi “Hidden Hunger” dan Pentingnya Vitamin D
Diskusi interaktif bertajuk “Pahami Strategi Optimalkan Nutrisi Anak, Bekal Peace of Mind Orang Tua!” di Boostopia turut membahas peran nutrisi komprehensif. Dalam kesempatan tersebut, Dokter anak dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A, MPH, menjelaskan bahwa mayoritas anak Indonesia mengalami kekurangan vitamin D.
“Data di Indonesia menunjukkan satu dari dua anak kekurangan zat gizi penting, dan mayoritas mengalami kekurangan vitamin D yang berhubungan dengan penurunan imunitas dan pertumbuhan yang tidak optimal,” kata dr. Mesty.
Kondisi yang disebut “hidden hunger” ini sering luput dari perhatian orang tua karena anak tidak selalu menunjukkan tanda kekurangan gizi secara fisik. Banyak orang tua masih mengaitkan status gizi anak dengan berat badan, padahal kekurangan mikronutrien tidak selalu tercermin dari penampilan luar anak.
Dampak Jangka Panjang dan Literasi Nutrisi Keluarga
Dr. Mesty menambahkan bahwa “hidden hunger” berisiko memengaruhi berbagai aspek perkembangan anak. Ini mulai dari tingkat energi, kemampuan fokus, hingga daya tahan tubuh mereka secara keseluruhan.
Dalam jangka panjang, kekurangan mikronutrien dapat berdampak serius pada pertumbuhan yang tidak optimal serta perkembangan kognitif anak. Ia juga menekankan bahwa dua tahun pertama kehidupan anak merupakan fase krusial yang sangat dipengaruhi oleh kecukupan nutrisi dan stimulasi.
Untuk mencegah kondisi tersebut, peningkatan literasi nutrisi keluarga dinilai menjadi langkah penting yang perlu diperkuat. “Orang tua perlu dibekali pemahaman yang benar mengenai kebutuhan gizi anak, bukan hanya soal kenyang, tetapi juga kualitas nutrisinya,” ujarnya.
Sumber: AntaraNews