MPR Ajak Universitas Dukung Program Transisi Energi Prabowo
Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyerukan dukungan universitas terhadap program transisi energi Presiden Prabowo, termasuk pengembangan energi surya 100 GW dan elektrifikasi transportasi, demi ketahanan energi nasional.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Eddy Soeparno menyerukan seluruh universitas di Indonesia untuk memberikan dukungan penuh terhadap upaya Presiden Prabowo Subianto dalam mengakselerasi program transisi energi. Ajakan ini mencakup pengembangan energi surya hingga 100 gigawatt (GW), elektrifikasi transportasi, serta pengembangan bioenergi yang berkelanjutan sebagai bagian dari strategi nasional.
Pernyataan penting ini disampaikan oleh Eddy Soeparno dalam acara "MPR Goes to Campus" yang berlangsung di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Medan pada Jumat (03/4). Dalam kesempatan tersebut, ia disambut langsung oleh Rektor UMSU, Prof. Agussani, beserta jajaran wakil rektor dan dekan universitas tersebut, menunjukkan komitmen bersama.
Menurut Eddy, dukungan dari berbagai pihak, termasuk komunitas akademik dan universitas, sangat krusial untuk mewujudkan komitmen Presiden Prabowo. Hal ini mengingat situasi geopolitik global saat ini yang menuntut ketahanan energi nasional yang lebih kuat dan mandiri, serta mengurangi ketergantungan impor.
Peran Strategis Universitas dalam Mendukung Ketahanan Energi Nasional
Dalam pemaparannya, Eddy Soeparno secara tegas menyoroti relevansi ketahanan energi di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang. Ketergantungan pada impor energi, seperti minyak mentah dan LPG, harus dikurangi secara signifikan demi stabilitas ekonomi dan keamanan nasional yang berkelanjutan.
Salah satu langkah strategis untuk mencapai ketahanan energi adalah melalui percepatan elektrifikasi dan transisi energi. Program ini diharapkan mampu meminimalisir ketergantungan Indonesia pada pasokan energi dari luar negeri, sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal.
Oleh karena itu, universitas memiliki peran vital dalam mendukung inisiatif ini secara konkret. Mereka diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang terampil dan siap bekerja di sektor industri hijau serta pengembangan energi terbarukan di berbagai daerah.
Menciptakan Peluang Kerja dan Mendorong Industrialisasi Domestik
Percepatan transisi energi tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan dan keberlanjutan, tetapi juga berpotensi besar dalam membuka peluang kerja baru. Sektor industri hijau dan energi terbarukan akan membutuhkan tenaga kerja formal yang memiliki keahlian khusus dan relevan dengan perkembangan teknologi.
Eddy Soeparno menekankan bahwa peluang kerja ini harus diisi oleh putra-putri bangsa yang memang sudah siap dan terampil. Untuk itu, perlu ada keterkaitan dan keselarasan (link and match) yang kuat antara kebutuhan industri dengan kurikulum pendidikan yang diajarkan di perguruan tinggi di seluruh Indonesia.
Selain penyiapan SDM yang berkualitas, dukungan universitas juga diharapkan dalam pengembangan riset dan inovasi energi terbarukan. Hasil riset ini dapat menjadi masukan berharga bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang efektif untuk mempercepat transisi energi secara komprehensif.
Pada akhirnya, upaya percepatan transisi energi ini harus memberikan manfaat maksimal bagi industri domestik. Hal ini akan mendorong industrialisasi, meningkatkan kapasitas produksi nasional, dan menyerap tenaga kerja formal terampil dalam jumlah besar dari dalam negeri, sekaligus memperkuat ekonomi bangsa.
Sumber: AntaraNews