Meski penjajah, Pabrik Tjipetir perhatikan kesejahteraan pekerja
"Tiap bulan pekerjanya dikasih beras. Ngambil di gudang," ujar pria berusia 90 tahun itu.
Salah seorang warga Desa Cipetir yang pernah kerja di Pabrik Gutta Percha Tjipetir, Abah Adung menceritakan, saat masa kejayaannya, pabrik tersebut selalu ramai dengan aktivitas pekerja. Pabrik yang berada di tengah hutan tersebut tidak pernah berhenti karena memiliki pekerja yang dibagi dua shift.
"Masuk jam 5 sore apa pagi keluar jam 6. Masuk lagi orang satu hari kerja kita yang masukin yang aplus terus-terusan gitu," ujar Abah Adung, saat ditemui di rumahnya, Desa Cipetir, Jumat (5/12).
Pria berusia 90 tahun tersebut masih mengingat jelas saat ia bekerja di pabrik yang dibangun pada 1921 sebagai buruh di bagian penggilingan daun perca. Saat itu usianya masih 15 tahun.
Ia menceritakan, saat dirinya mulai masuk, saat itu, kereta gantung sedang dibangun. Kereta gantung merupakan transportasi pengangkut daun pohon perca dari perkebunan ke pabrik yang berjarak sekitar satu kilometer.
"Saya mah ikut kerja di pabrik ikut bapak. Saya dari kecil, dari lahir sudah di sini," paparnya.
Abah Adung masih ingat dengan jelas gaji yang diterimanya sebulan. Dalam sebulan, ia menerima gaji sebesar 15 sen. Ia menambahkan, meski bekerja untuk penjajah, Pabrik Gutta Percha Tjipetir tetap memperhatikan kesejahteraan pekerjanya.
"Tiap bulan pekerjanya dikasih beras. Ngambil di gudang," ujar pria kelahiran 1924 tesebut.
Baca juga:
Dari tengah hutan tersembunyi, Tjipetir dominasi lateks dunia
Serdadu dan noni Belanda yang kerap muncul di Pabrik Tjipetir
Kisah pabrik Tjipetir yang pernah dibakar pejuang Indonesia
Menengok sisa kejayaan Tjipetir dari zaman kolonial Belanda
Produk-produk mendunia ini dibuat dari lempeng karet Tjipetir
Awal mula penemuan lempeng Tjipetir yang gegerkan Eropa