Kisah pabrik Tjipetir yang pernah dibakar pejuang Indonesia
Merdeka.com - Pabrik Gutta Percha Tjipetir yang berdiri sejak zaman kolonial Belanda telah mencatatkan sejarah dalam perjalan Republik Indonesia. Pabrik yang berada di Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi ini menyuplai hampir sebagian besar kebutuhan lateks di seluruh dunia.
Saat era kejayaannya, pabrik Gutta Percha Tjipetir mampu menghasilkan bahan lateks yang dihasilkan dari daun pohon perca hingga ratusan kilogram. Material ini dikerjakan oleh ratusan pekerja yang sebagian besar direkrut dari desa di Kecamatan Cikidang.
"zaman kolonial, pabrik ini memiliki ratusan pekerja. Pekerja yang dibagi ke dalam tiga shift. Satu shift, mereka bekerja selama tujuh jam," kata Budi Prayudi, pengawas pabrik pengolahan gutta percha Cipetir, PTPN VIII Sukabumi kepada merdeka.com saat ditemui di pabrik, Jumat (5/12).
Budi yang merupakan generasi kedua yang bekerja di pabrik yang diprakasai oleh Tromp de Haas pada 1885 mengatakan, setelah Indonesia merdeka, Gutta Percha Tjipetir pernah dihanguskan oleh pejuang pada tahun 1947. Pabrik tersebut dibakar saat Belanda melancarkan agresi militernya.
"Jadi awalnya, bangunan di bagian kimiawi tidak seperti seperti sekarang. Separuhnya dibuat dari kayu. Tapi pondasi seperti besi tetap utuh seperti semula," ujar Budi.
Saat ini, produksi getah dari pohon perca tidak sebesar saat zaman kolonial. Sepanjang tahun 2014, pabrik ini hanya mengerjakan hingga 16 kilogram material dari getah perca.
"Sekarang pekerja di pabrik ini tinggal tujuh orang. Lima, sepuluh tahun lalu, pegawainya masih sekitar 70 orang," ujarnya.
Budi menjelaskan, pabrik tetap berproduksi meski pesanan sedikit. Salah satu perusahaan yang masih memesan bahan hasil olahan pohon perca adalah perusahaan Gajah Tunggal.
"Ada juga perusahaan asal Jepang dan Korea yang memesan langsung ke kita," ujarnya.
Pria yang bekerja di pabrik sejak 1996 ini menuturkan, di masa jayanya, pabrik Gutta Percha Tjipetir merupakan roda penggerak ekonomi di Kecamatan Cikidang. Setiap awal bulan, saat pegawai menerima gaji, halaman depan pabrik sudah seperti pasar kaget.
"Dulu, kalau pekerja sudah terima gaji, di depan gerbang berjajar pedagang, mulai dari pedagang makanan hingga pedagang pakaian," ujarnya.
(mdk/ren)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya