Menu MBG di Purworejo Bervariasi, Sehari Habiskan Rp30 Juta
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, kini telah menjangkau sekitar 55.000 siswa sekolah.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, kini telah menjangkau sekitar 55.000 siswa sekolah sebagai penerima manfaat. Pemerintah daerah mencatat dari target pembentukan 72 dapur Sentra Penyedia Pangan Gizi (SPPG), baru 9 dapur yang sudah beroperasi di sejumlah kecamatan dan kelurahan.
Asisten Bidang Pemerintahan Setda Kabupaten Purworejo, Jainudin, menyebut bahwa setiap siswa penerima manfaat mendapatkan variasi menu bergizi setiap hari. Menu tersebut dirancang agar memenuhi kebutuhan protein, serat, dan karbohidrat seimbang.
“Kami menekankan pentingnya menghadirkan lauk kaya serat dan protein, baik hewani maupun nabati, yang penting ada telurnya. Jadi, kalau dibreakdown, menunya selalu ada lauk ayam goreng, kadang telur, kadang ada nugget,” ujar Jainudin, Jumat (10/10).
Beberapa siswa juga kerap mengajukan permintaan menu tertentu kepada pengelola dapur SPPG. Meski tidak semua disetujui, sebagian permintaan tersebut dikabulkan.
“Yang paling sering direquest siswa itu lauknya ya ayam geprek. Mungkin mereka merasa biar enggak bosan,” ungkapnya.
Pelaksanaan program MBG di Purworejo telah menghabiskan alokasi dana sekitar Rp30 juta per hari atau sekitar Rp900 juta per bulan.
“Perkiraan kami memakai dana untuk kegiatan MBG itu ya Rp30 juta sehari. Kalau sebulan bisa habis Rp900 jutaan,” kata Jainudin.
Meski berjalan baik, program ini masih menghadapi kendala teknis, salah satunya terkait proses verifikasi mitra calon SPPG oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang kerap memakan waktu lama.
“Kendala-kendalanya umumnya seperti mitra calon SPPG tidak segera lolos verifikasi BGN,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana memuji langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilai paling progresif dalam pelaksanaan program MBG secara nasional.
“Pak Gubernur Ahmad Luthfi ini luar biasa. Beliau yang langsung menelepon saya, minta agar kita segera rapat koordinasi bersama seluruh kepala daerah, supaya program MBG ini aman, higienis, dan berkelanjutan,” kata Dadan usai Rakor MBG dan SPPG di GOR Jatidiri Semarang, Senin kemarin.
Menurut Dadan, inisiatif Gubernur Ahmad Luthfi mempertemukan pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi contoh nyata sinergi efektif antarlembaga. Hasilnya, Jawa Tengah berhasil mengoperasikan 1.596 dapur SPPG dari total lebih dari 10.000 dapur di 38 provinsi, atau sekitar 50 persen dari target nasional.
Tak hanya unggul dalam jumlah, pelaksanaan MBG di Jawa Tengah juga menonjol dari sisi manajemen, higienitas, dan pengawasan pangan. Selain meningkatkan gizi pelajar, program ini juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pelaku usaha lokal.
“Efeknya luar biasa, industri pangan lokal ikut tumbuh, dari pemasok sayur, beras, sampai produsen susu dan food tray,” jelas Dadan.
Ia menegaskan, keberhasilan Jawa Tengah menjadi contoh konkret bagaimana program gizi nasional bisa sukses jika dijalankan dengan komitmen kuat di daerah.
“Kita lakukan langkah koordinasi mulai dari Jawa Tengah. Ini inisiatornya luar biasa dari Gubernur Jawa Tengah, dan akan kita lanjutkan ke provinsi lain,” pungkasnya.