Menteri LH Pimpin 1.100 Orang, 84 Ton Sampah Terkumpul dalam Pembersihan Sampah Banjir Denpasar
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memimpin 1.100 orang membersihkan sampah banjir Denpasar, dengan 84 ton sampah terkumpul. Bagaimana penanganan selanjutnya?
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memimpin langsung upaya pembersihan sisa banjir besar di Denpasar, Bali, pada Minggu (14/9). Kegiatan ini melibatkan seribuan orang dari berbagai instansi dan komunitas untuk membersihkan kawasan pasar yang terdampak. Fokus utama pembersihan adalah Pasar Kumbasari, Pasar Badung, dan sepanjang Jalan Sulawesi yang sebelumnya terendam luapan air Tukad Badung.
Aksi kolaboratif ini merupakan kelanjutan dari upaya pembersihan yang telah berlangsung beberapa hari sebelumnya setelah banjir melanda pada Rabu (10/9) dini hari. Sebanyak 1.100 personel gabungan dikerahkan, terdiri dari unsur Polri, TNI, warga, pelajar, lembaga swadaya masyarakat (LSM), ojek online, hingga komunitas pencak silat. Mereka bahu-membahu membersihkan lumpur dan sampah yang menumpuk.
Hingga hari kelima pascabencana, Kementerian Lingkungan Hidup mencatat total 84 ton sampah telah berhasil terkumpul dari area terdampak banjir. Namun, diperkirakan masih ada sekitar 210 ton sampah lagi yang perlu diangkut. Situasi ini menunjukkan skala besar dampak banjir dan tantangan dalam penanganan limbah pascabencana di ibu kota Provinsi Bali tersebut.
Upaya Kolaboratif Bersihkan Sisa Banjir
Kegiatan pembersihan sisa banjir besar di Denpasar dimulai sejak pukul 07.30 Wita, dengan fokus utama di pusat-pusat perdagangan seperti Pasar Kumbasari dan Pasar Badung. Kawasan Jalan Sulawesi yang juga terdampak luapan air sungai Tukad Badung menjadi prioritas penanganan. Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa upaya ini melibatkan partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dan instansi pemerintah.
"Ada 1.100 orang ini melanjutkan upaya-upaya (pembersihan) yang telah dilakukan beberapa hari lalu. Mereka dari unsur Polri, TNI, warga, pelajar, LSM, ojek online, komunitas pencak silat," kata Hanif Faisol di Denpasar. Keterlibatan banyak pihak ini menunjukkan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pascabencana.
Menteri LH juga mengungkapkan data terkini terkait volume sampah yang berhasil dikumpulkan. "Hingga hari kelima bencana di Bali telah terkumpul 84 ton sampah, yang diperkirakan masih ada 210 ton sampah lagi yang akan terkumpul dari sisa banjir," ujarnya. Angka ini menggambarkan besarnya volume sampah yang dihasilkan akibat banjir dan memerlukan penanganan cepat serta terkoordinasi.
Penanganan Sampah Darurat dan Mitigasi Jangka Panjang
Mengingat status sampah tersebut sebagai dampak bencana, Kementerian Lingkungan Hidup memberikan izin khusus kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk membuang sampah banjir ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung. Izin ini berlaku dengan batasan waktu satu bulan untuk memastikan seluruh sampah dapat tertangani secara efektif. Kebijakan ini diambil karena kondisi darurat yang tidak memungkinkan pengelolaan sampah di lokasi terdampak.
"Kami menyampaikan ke pak gubernur untuk membawa sampah-sampah tersebut ke TPA Suwung karena ini sampah spesifik keadaan darurat harus diperlakukan benar sehingga semua sampah selama paling lama sebulan semua diangkut ditangani di sana," jelas Hanif Faisol. Meskipun demikian, Menteri LH menekankan pentingnya peningkatan penanganan sampah dari sumbernya sebagai langkah preventif di masa mendatang.
Setelah meninjau langsung proses pembersihan lumpur di Pasar Kumbasari, Hanif Faisol memperkirakan bahwa proses pembersihan akan memakan waktu beberapa hari. Tantangan lain adalah banyaknya sampah yang menyumbat sungai dan drainase, ditambah potensi hujan yang masih akan turun di Bali. "Karena darurat, dibuang ke TPA Suwung dan ditangani di sana karena tidak mungkin dikelola di sini melihat kedaruratannya. Namun, kita wajib meningkatkan penanganan sampah dari sumber," tegasnya.
Pentingnya Restorasi Lingkungan dan Mitigasi Bencana
Banjir besar yang melanda Denpasar menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana dan penanganan sampah yang komprehensif. Menteri LH mengingatkan pemerintah daerah untuk tetap fokus pada langkah-langkah penanganan sampah dari sumber, sesuai hasil rapat koordinasi sebelumnya. Hal ini krusial untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Hanif Faisol juga menyoroti masalah lingkungan yang lebih luas, khususnya terkait tutupan hutan. "Pak gubernur dan semuanya di Bali harus kembali menjaga kualitas alam yang ternyata belum mampu menahan curah hujan tinggi karena harus dikembalikan tutupan hutannya di daerah hulu sana," ucapnya. Restorasi hutan di daerah hulu sangat penting untuk meningkatkan kapasitas resapan air dan mengurangi risiko banjir.
Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup, Bali memerlukan hampir 14 ribu hektare tutupan hutan di daerah aliran sungai (DAS) yang menuju Denpasar dan Badung agar kemampuan resapan air kembali optimal. Saat ini, hanya sekitar 3 persen area hulu yang memiliki tutupan hutan. "Di hulu kita hanya 3 persen yang ada hutannya jadi pemda sedang mendesain untuk ditanam paling tidak 3 tahun sudah selesai dengan melibatkan semua orang, kemudian di sisi hilir ada permasalahan sampah dan sempadan sungai, dengan kalibrasi hujan yang sangat ekstrem itu tidak boleh main-main," pungkasnya, menekankan urgensi tindakan nyata.
Sumber: AntaraNews